Wednesday, December 2, 2015

11 Aktivitas yang Harus Anda Lakukan di Senin Pagi Agar Lebih Produktif

lazy-salamku

Senin pagi adalah waktu paling penting di hari kerja Anda, karena dia mengatur tempo kerja Anda untuk satu minggu ke depan. Akan tetapi, senin pagi juga dipenuhi dengan aktivitas tak terduga, limpahan komunikasi, dan hiruk pikuk kerja. Jadi, apa yang harus Anda lakukan agar senin pagi Anda sukses? Berikut adalah 11 di antaranya:

Bangun pagi dan olahraga.
Hal ini akan melancarkan sirkulasi Anda dan membantu Anda tetap waspada, menempatkan Anda lebih produktif selama seminggu ke depan. Selain itu, Anda akan mendapat suntikan endorfin yang akan membantu suasana hati Anda lebih cerah selama seharian penuh.

Sarapan.
Pada hari Senin pagi, Anda mungkin ingin menyelesaikan sebanyak mungkin aktivitas yang dapat Anda kendalikan. Sarapan adalah salah satunya. Anda tentunya tidak ingin menatap jam sambil perut Anda menggeram sepanjang siang menunggu waktu makan siang.

Tiba lebih awal.
Jangan memencet tombol snooze. Kemacetan semakin parah pada hari Senin. Tiba lebih awal dari orang lain akan membantu senin pagi Anda tampak lebih seperti sore hari, karena Anda memiliki kesempatan untuk bernapas sebelum menanggapi rentetan masalah.

Bersihkan meja dan desktop.
Mudah-mudahan Anda sudah melakukan ini sebelum Anda pergi pada hari Jumat. Tapi jika tidak, selesaikan di senin pagi atau Anda akan menambahkan tekanan dalam lautan disorganisasi. Atur dan prioritaskan file Anda. Singkirkan dokumen penting, dan simpan file-file penting agar mudah diakses. Anda ingin siap ketika Anda, atasan, atau rekan Anda memerlukan sesuatu pada menit terakhir.

Menyapa tim Anda.
Hal ini penting Anda lakukan setiap pagi, untuk menjaga semangat kerja tim Anda tetap tinggi. Akan tetapi semakin berharga lagi ketika dilakukan pada Senin pagi, karena tim Anda membutuhkan dorongan khusus. Hal ini akan memperkuat rasa tujuan dan rasa berkomunitas bagi semua orang, termasuk Anda.

Memvisualisasikan keberhasilan minggu ini.
Dengan membayangkan hasil positif dari berbagai proyek di tangan Anda, Anda dapat lebih tenang dalam menentukan langkah-langkah yang diperlukan untuk mendapatkan hasil yang diinginkan.

Screening email Anda hanya untuk membalas permintaan mendesak.
Anda bisa tenggelam ke tumpukan email jika Anda tidak memindai kotak masuk Anda untuk membalas email-email yang mendesak saja. Tandai email-email yang menjadi prioritas.


Selesaikan tantangan paling sulit.
Proyek-proyek yang paling tidak diinginkan tapi penting, sangat mudah untuk ditunda. Akan tetapi, energi Anda jauh lebih besar di pagi hari, sehingga ini adalah waktu yang ideal untuk menghadapi tugas-tugas yang paling sulit.

Buatlah upaya ekstra untuk tersenyum.
Tersenyum mungkin hal terakhir di pikiran Anda, tetapi iklim kerja Anda akan sedikit lebih baik karenanya. Senyum memiliki kemungkinan besar untuk menular, dan membantu Anda dan anggota tim Anda semakin rileks

Email penuh kehangatan bagi tim Anda.
Sangat menggoda untuk mengirim email dengan cara yang paling efisien pada Senin pagi. Tapi sebelum anda pencet Kirim, baca lagi untuk memastikan bahwa email Anda semakin ramah dan jelas. Mulailah setiap email dengan mengatakan “Hai” dan “Saya harap minggu Anda luar biasa.”

Mampu mengatakan tidak.
Pada Senin pagi, akan ada banyak gangguan, dari orang-orang, email, panggilan, pertemuan, menawarkan untuk bertemu di ruang istirahat, dan sebagainya. Anda harus mampu bersikap diplomatis dan sesopan mungkin untuk mengatakan tidak kepada rekan-rekan Anda. Tidak mungkin Anda bisa memuaskan setiap orang, terutama di hari Senin pagi.

Hari Senin bisa jadi penuh kekacauan dan hiruk pikuk. Tetapi jika Anda bisa mengantisipasi semua gangguan dan meningkatkan fokus, rencana, dan tetap tenang, Anda tidak akan mengulang kembali kericuhan di hari Senin pagi pada hari Selasa berikutnya.

Sumber: Studentpreneur.co

Monday, July 13, 2015

Aplikasi Instagram Untuk Komputer

Instagram merupakan aplikasi yang diperuntukkan bagi pengguna untuk membagi foto keberbagai layanan jejaring sosial, termasuk instagram itu sendiri. Aplikasi instagram bisa diunduh di Apple App Store (iOS) dan Google Play (Android). Instagram sangat populer dikalangan pengguna smatphone untuk saling berbagi foto baik di Instagram sendiri maupun di media sosial lainnya (Facebook dan Twitter). Bagi kamu yang mau menginstall Instagram di komputer kini sudah tersedia aplikasi yang memenuhi keinginan kamu. Aplikasi ini bernama Grids, kamu bisa mendownloadnya secara gratis.
hasugi-world-grids-1
Untuk menggunakan aplikasi ini kamu harus sudah mempunyai akun Instagram. Seperti yang kamu lihat di atas merupakan tampilan dari aplikasi Grids tersebut. Namun fitur yang ditawarkan aplikasi ini terbatas, untuk beberapa fitur yang tersedia kamu harus membayarnya. Fitur berbayar yang dimaksud seperti Search, Bookmarks, Following/News, fitur Auto Play Video dan tampilan layout (Brief, Vertical dan Horizontal). Untuk versi gratis kamu hanya bisa melihat potingan user yang kamu follow dan melihat beberapa info lainnya. Walaupun versi gratisnya terbatas setidaknya kamu nggak perlu menginstal aplikasi Bluestack, GenyMotion atau aplikasi Android untuk PC lainnya.
hasugi-world-grids-2
hasugi-world-grids-3
hasugi-world-grids-4
Download aplikasi Grids

Monday, June 1, 2015

Sejarah Lahirnya Pancasila

Monumen Pancasila, sumber: tunas63.wordpress.com

Tepat hari ini, Senin, 1 Juni 2015, 70 tahun sudah usia peringatan hari lahirnya Pancasila.
Seolah kita diingatkan kembali oleh pidato mantan Presiden RI pertama, Ir Soekarno di depan Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), yang kemudian dikenang sebagai hari lahirnya Pancasila.

1 Juni menjadi tanggal yang sangat penting, karena di situlah Pancasila telah lahir, dan inilah hari lahir dasar negara, pemersatu Sabang hingga Marauke.

Tanggal 1 Juni sempat jadi perdebatan di era kepemimpinan Presiden Soeharto, atau di era rezim orde baru. Pasalnya, sikap pemerintah terhadap Pancasila ambigu.

Pada tahun 1970, pemerintah orde baru melalui Kopkamtib melarang peringatan 1 Juni sebagai hari lahir Pancasila.

Kendati demikian, dalam perkembangan selanjutnya pemerintah orde baru justru mengembangkan Pancasila dengan memperkenalkan Eka Prasetya Panca Karsa, yang menjadi materi dalam penataran P4 yang sifatnya wajib bagi semua instansi, baik pemerintah maupun swasta.

Sejak masa pemerintahan orde baru, sejarah tentang rumusan-rumusan awal Pancasila didasarkan pada penelusuran sejarah oleh Nugroho Notosusanto melalui buku Naskah Proklamasi jang Otentik dan Rumusan Pancasila jang Otentik.

Setelah reformasi 1998, muncul banyak gugatan tentang hari lahir Pancasila yang sebenarnya. Setidaknya ada tiga tanggal yang berkaitan dengan hari lahir Pancasila, yaitu tanggal 1 Juni 1945, tanggal 22 Juni 1945 dan tanggal 18 Agustus 1945.

Dan akhirnya tanggal 1 Juni ditetapkan sebagai hari lahir Pancasila. Karena pada tanggal tersebut kata Pancasila pertama kali diucapkan oleh Bung Karno yang saat itu belum diangkat menjadi Presiden pada saat mengucapkan kata Pancasila pada sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).

Berikut kutipan pidato Bung Karno pada tanggal 1 Juni 1945:

"Dasar negara, yakni dasar untuk di atasnya didirikan Indonesia Merdeka, haruslah kokoh kuat sehingga tak mudah digoyahkan. Bahwa dasar negara itu hendaknya jiwa, pikiran-pikiran yang sedalam-dalamnya, hasrat yang sedalam-dalamnya untuk di atasnya didirikan gedung Indonesia Merdeka yang kekal dan abadi. Dasar negara Indonesia hendaknya mencerminkan kepribadian Indonesia dengan sifat-sifat yang mutlak keindonesiaannya dan sekalian itu dapat pula mempersatukan seluruh bangsa Indonesia yang terdiri atas berbagai suku, aliran, dan golongan penduduk,"

"Dasar negara yang saya usulkan. Lima bilangannya. Inilah Panca Dharma? Bukan! Nama Panca Dharma tidak tepat di sini. Dharma berarti kewajiban, sedang kita membicarakan dasar. Namanya bukan Panca Dharma, tetapi saya menamakan ini dengan petunjuk seorang teman kita ahli bahasa (Muhammad Yamin) namanya Pancasila. Sila artinya asas atau dasar dan di atas kelima dasar itulah kita mendirikan negara Indonesia kekal dan abadi,"

Pada rapat BPUPKI, Bung Karno mengakui pada saat berumur 16 tahun dan bersekolah di H.B.S. di Surabaya, Jawa Timur.

Dan, pada tanggal 1 Juni tersebut, Bung Karno mengusulkan nama dasar negara Indonesia dengan nama Pancasila. Sebuah nama yang menurut Soekarno diperoleh dari seorang teman yang ahli bahasa, tanpa menyebut siapakah nama temannya yang tersebut.

Namun, Pancasila yang diusulkan oleh Soekarno saat itu, adalah cukup berbeda dengan Pancasila yang kita kenal saat ini. Perbedaan itu, terutama dalam hal susunan redaksi, sistematika, atau urutan sila-silanya. Perhatikan, Pancasila yang diusulkan oleh Soekarno saat itu:

1. Kebangsaan Indonesia
2. Internasionalisme atau perikemanusiaan
3. Mufakat atau demokrasi
4. Kesejahteraan sosial
5. Ketuhanan yang berkebudayaan

Tentu, cukup berbeda dengan naskah resmi Pancasila yang kita kenal pada saat ini, yaitu :

1. Ketuhanan yang maha esa
2. Kemanusiaan yang adil dan beradab
3. Persatuan Indonesia
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanan dalam permusyawaratan perwakilan
5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

Naskah resmi Pancasila ini baru disahkan pada tanggal 18 Agustus 1945, satu hari setelah Indonesia merdeka melalui rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), bersamaan dengan disahkannya UUD 1945 sebagai undang-undang dasar negara.

Sumber: Wikipedia.org

Sejarah lahirnya Pancasila

Perjalanan panjang lahirnya Pancasila pada masa-masa akhir Perang Dunia II, kekalahan Jepang pada sekutu dalam perang Pasifik tidak lagi bisa disembunyikan.

Hal ini mendesak Jenderal Kuniaki Koisi yang saat itu menjabat sebagai Perdana Menteri (PM) Jepang untuk mengumumkan sebuah rencana untuk negeri zamrud khatulistiwa ke depannya pada tanggal 7 September 1944.

Hal yang diumumkan oleh Koisi ternyata adalah sebuah rencana untuk memerdekakan Indonesia ketika Jepang berhasil memenangkan perang Asia Timur. Pengumuman tersebut diharapkan akan membuat Indonesia berpikir bahwa pasukan sekutu adalah perenggut kemerdekaan mereka.
Bibit itulah yang menjadi cikal bakal lahirnya Pancasila sebagai ideologi dan dasar negara Indonesia. Di mana muncul ketika pada 1 Maret, Kumakichi Harada memberitahukan tentang pembentukan badan yang bertugas menyelidiki usaha persiapan kemerdekaan dengan nama Dokuritsu Junbi Cosakai BPUPKI.

Ketika BPUPKI secara resmi dibentuk pada 29 April 1945, yang ditunjuk menjadi ketua adalah Radjiman Wedyodiningrat, didampingi oleh Raden Pandji Soeroso dan satu orang Jepang sebagai wakil ketuanya.

Soeroso telah memegang posisi ganda, yaitu sebagai kepala sekretariat BPUPKI bersama Abdoel Gafar dan Masuda Toyohiko. Ketika didirikan, BPUPKI memiliki 67 anggota dengan 7 diantaranya merupakan orang Jepang yang tidak memiliki hak suara.

Pada 28 Mei 1945, BPUPKI mengadakan sidang pertama mereka di gedung Volksraad, Jalan Pejambon 6, Jakarta Pusat. Sidang hari pertama ini hanya merupakan upacara pelantikan, dan sidang sesungguhnya baru dimulai keesokan harinya selama empat hari.

Pada sidang ini, Muhammad Yamin menyampaikan pidato dan merumuskan hal yang menjadi awal sejarah lahirnya Pancasila sebagai ideologi dan dasar negara Indonesia, yaitu ideologi Kebangsaan, ideologi kemanusiaan, ideologi ketuhanan, ideologi kerakyatan, dan ideologi kesejahteraan.

Adapun pada tanggal 1 Juni 1945, Soekarno mencetuskan dasar-dasar kebangsaan, internasionalisme, kesejahteraan, ketuhanaan, dan mufakat sebagai dasar negara. Bung Karno juga memberi nama dasar-dasar tersebut Pancasila, dari kata panca yang berarti lima dan sila yang berarti dasar atau azas.
Usulan Pancasila milik Soekarno kemudian ditanggapi dengan serius, menyebabkan lahirnya Panitia Sembilan yang berisi Soekarno, Mohammad Hatta, Marami Abikoesno, Abdul Kahar, Agus Salim, Achmad Soebardjo, Mohammad Yamin, dan Wahid Hasjim.

Panitia ini kemudian bertugas untuk merumuskan ulang Pancasila yang telah dicetuskan oleh Soekarno dalam pidatonya.

Rumusan selanjutnya yang nantinya menjadi pencipta sejarah lahirnya Pancasila sebagai ideologi dan dasar negara Indonesia adalah ketika dibuatnya Piagam Jakarta, di sebuah rapat nonformal pada 22 Juni 1945 dengan 38 anggota BPUPKI.

Pada pertemuan ini, terjadi debat antara golongan Islam yang ingin Indonesia menjadi negara Islam dan golongan yang ingin Indonesia menjadi negara sekuler. Ketika mereka mencapai persetujuan, dibuatlah sebuah dokumen bernama Piagam Jakarta yang di dalamnya terdapat usulan bahwa pemeluk agama Islam wajib menjalankan syariat Islam.

Rancangan ini akhirnya dibahas secara resmi pada tanggal 10 dan 14 Juli 1945, di mana dokumen ini dipecah menjadi dua, bernama Deklarasi Kemerdekaan dan Pembukaan.

Singkat cerita, di penghujung tahun 1949, Republik Indonesia harus menerima rumusan penggantian bentuk pemerintahan menjadi negara federal dan hanya menjadi negara bagian Belanda.

Pada masa kini, sudah terbentuk kerangka Pancasila yang hampir mengikuti Pancasila modern. Beberapa bulan setelah menjadi Republik Indonesia Serikat (RIS), banyak negara bagian yang memilih bergabung dengan RI Yogyakarta, dan setuju mengadakan perubahan konstitusi RIS menjadi Undang-Undang Dasar Sementara (UUDS).

Pada era kehancuran RIS ini, kerangka Pancasila belum berubah dari era awal RIS dibentuk oleh Belanda.

Berlanjut pada 5 Juli 1959, Presiden Soekarno akhirnya memutuskan untuk menetapkan UUD yang disahkan pada 18 Agustus oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) untuk menggantikan UUDS yang gagal menciptakan kestabilan negara pada saat itu.

Menyusul penggunaan kembali UUD 1945, Pancasila yang menjadi rumusan resmi adalah Pancasila dalam pembukaan UUD, yang merupakan Pancasila yang berlaku hingga di era modern saat ini. (dari berbagai sumber)

Sumber artikel Okezone

Sunday, February 14, 2010

Jauhi Khurafat Safar dan Tasyabuh bil Kuffar IMLEK dan VALENTINE DAY

Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh

Saudaraku yang beriman, bulan-bulan ini dipenuhi ritual-ritual yang berasal dari adat dan agama lain, yang masih kebanyakan umat kita rayakan, padahal beribadah dan menyikapi apa pun, umat Islam diwajibkan mengikuti Al-Quran dan Sunnah Rasul. Amal ibadah yang tidak diperintahkan dan dicontohkan Rasul tidak akan diterima oleh Allah SWT alias mardud (tertolak).

“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.”
(HR. Bukhari dan Muslim).

“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim).

Ritual dan kepercayaan apa sajakah?

KHURAFAT di BULAN SAFAR


Amalan yang tertotal itu termasuk khurafat (tahayul, mitos). Khurafat adalah salah satu bentuk penyelewengan dalam akidah Islam. Salah satunya, khurafat berkenaan dengan bulan Safar. Pada zaman Jahiliyah, ada kepercayaan bahwa bulan Safar adalah bulan sial. Kepercayaan atau mitos/tahayul tersebut langsung dibantah oleh Rasulullah Saw.

Bulan Safar adalah bulan kedua setelah Muharam dalam kalendar Islam (Hijriyah) yang berdasarkan tahun Qamariyah (perkiraan bulan mengelilingi bumi). Safar artinya kosong. Dinamakan Safar karena dalam bulan ini orang-orang Arab dulu sering meninggalkan rumah untuk menyerang musuh.



Kepercayaan bahwa Safar bulan sial atau bulan bencana masih saja dipercaya sebagian umat. Padahal, Rasul sudah menegaskan mitos itu tidak benar.



Salah satu amalan khurafat yang pernah muncul ialah “Pesta Mandi Safar”. Jika tiba bulan Safar, umat Islam mengadakan upacara mandi beramai-ramai dengan keyakinan hal itu bisa menghapuskan dosa dan menolak bala. Biasanya, amalan mandi Safar ini dilakukan pada hari Rabu minggu terakhir dalam bulan Safar yang diyakini merupakan hari penuh bencana.



Amalan mandi Safar untuk tolak bala dan menghapus dosa itu merupakan kepercayaan penganut Hindu melalui ritual “Sangam” yang mengadakan upacara penghapusan dosa melalui pesta mandi di sungai. Umat Islam harus menghormati keyakinan mereka, tapi tidak boleh menirunya.



Hingga kini pun masih ada umat Islam yang tidak mau melangsungkan pernikahan pada bulan Safar karena percaya terhadap khurafat tersebut. Sebuah keyakinan yang dapat menjerumuskan kepada jurang kemusyrikan.



Bahkan, sampai ada “amalan khusus”, misalnya hari Rabu membaca syahadat tiga kali, istighfar 300 kali, ayat kursi tujuh kali, surat Al-Fiil tujuh kali, dan sebagaiya. Jelas, itu amalah khurafat dan bid’ah yang tidak bersumber dari ajaran Islam dan tidak dicontohkan oleh Rasulullah Saw dan para sahabat.



Khurafat bulan Safar selengkapnya antara lain larangan menikah dan pertunangan, menghalangi bermusafir atau berpergian jauh, Rabu minggu terakhir bulan Safar puncak hari sial, upacara ritual menolak bala dan buang sial di pantai, sungai atau rumah (Mandi Safar), membaca jampi serapah tertentu untuk menolak bala sepanjang Safar, menjamu makan makhluk halus yang dikatakan penyebab sesuatu musibah, menganggap bayi lahir bulan Safar bernasib malang, Safar bulan Allah menurunkan kemarahan dan hukuman ke atas dunia. Semuanya itu tidak benar dan umat Islam wajib mengingkari khurafat tersebut.



Kesialan, naas, atau bala bencana dapat terjadi kapan saja, tidak hanya bulan Safar, apalagi khusus banyak terjadi pada bulan Safar. Allah Swt menegaskan:



“Katakanlah: "Sekali-kali tidak akan menimpa Kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah pelindung Kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal."
(QS. At-Taubah: 51 ).



Tidak amalan istimewa atau tertentu yang dikhususkan untuk dirayakan pada bulan Safar. Amalan bulan Safar adalah sama seperti amalan-amalan pada bulan-bulan lain. Kepercayaan mengenai perkara sial atau bala pada sesuatu hari, bulan dan tempat itu merupakan kepercayaan orang jahiliah sebelum kedatangan Islam.



Rasulullah Saw bersabda: “Tidak ada wabah dan tidak ada keburukan binatang terbang dan tiada kesialan bulan Safar dan larilah (jauhkan diri) daripada penyakit kusta sebagaimana kamu melarikan diri dari seekor singa” (HR. Bukhari).



Semoga Allah senantiasa memberi kita kekuatan dan bimbingan, agar terhindari dari segala bentuk bid’ah, khurafat, dan tahayul sehingga kita selamat dari jurang kemusyrikan. Amin! Wallahu a’lam.*


http://www.pusdai.com/artikel-islam/34-artikel/804-jauhi-khurafat-bulan-safar.html

http://akob73.blogspot.com/2009_01_01_archive.html



TASYABUH BIL KUFFAR : VALENTINE dan IMLEK


At-Tasyabbuh secara bahasa diambil dari kata al-musyabahah yang berarti meniru atau mencontoh, menjalin atau mengaitkan diri, dan mengikuti. At-Tasybih berarti peniruan. Dan mutasyabihah berarti mutamatsilat (serupa). Dikatakan artinya serupa dengannya, meniru dan mengikutinya. Tasyabbuh yang dilarang dalam Al-Quran dan As-Sunnah secara syar’i adalah menyerupai orang-orang kafir dalam segala bentuk dan sifatnya, baik dalam aqidah, peribadatan, kebudayaan, atau dalam pola tingkah laku yang menunjukkan ciri khas mereka (kaum kafir). (Mantasyabbaha biqoumin Fahuwa Minhum, Dr.Nashir Bin Abdul Karim Al-Aql)

Termasuk dalam tasyabbuh yaitu meniru terhadap orang-orang yang tidak shalih, walaupun mereka itu dari kalangan kaum muslimin, seperti orang-orang fasik, orang-orang awam dan jahil, atau orang-orang Arab (badui) yang tidak sempurna diennya (keislamannya). Oleh karena itu, secara global kita katakan bahwa segala sesuatu yang tidak termasuk ciri khusus orang-orang kafir, baik aqidahnya, adat-istiadatnya, peribadatannya, dan hal itu tidak bertentangan dengan nash-nash serta prinsip-prinsip syari’at, atau tidak dikhawatirkan akan membawa kepada kerusakan, maka tidak termasuk tasyabbuh. Inilah pengertian secara global. (Idem)

Alloh Subhanahu wa ta'ala berfirman:

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik”
[QS. Al-Hadiid : 16].

Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata ketika mengomentari ayat di atas :

“Firman-Nya : ‘Janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya’ ; merupakan larangan yang bersifat mutlak dalam hal penyerupaan terhadap mereka (orang kafir). Larangan ini juga khusus menyerupai mereka dalam hal kerasnya hati, sedangkan kerasnya hati termasuk di antara buah kemaksiatan” [Iqtidlaa’ Shiraathil-Mustaqiim, 1/290].

Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini dengan mengatakan :

ولهذا نهى الله المؤمنين أن يتشبهوا بهم في شيء من الأمور الأصلية والفرعية

“Oleh karena itu, Allah melarang orang-orang yang beriman untuk menyerupai mereka (orang kafir) dalam hal apapun, baik dalam perkara pokok (ushuliyyah) maupun cabang (furu’iyyah)” [Tafsir Ibnu Katsir, 8/20, tahqiq : Saamiy bin Muhammad Salaamah; Daarith-Thayyibah, Cet. 2/1420].

termasuk di dalamnya memeriahkan dan merayakan VALENTINE DAY dan IMLEK yang sama sekali tidak dari ISLAM, bahkan terancam kita menyerupai kaum KAFIR dengan akidah mereka. Mau kah kau merayakan HAri kematian ST. VALENTINE? dan TAHUN BARU dien lain??


WALLAHU A"LAM

Dari : FUAT (Forum Ukhuwah Aneuk Teknik)

Friday, February 12, 2010

BEASISWA BIDIK MISI

Program Beasiswa BIDIK MISI
28/12/2009 | http://www.dikti.go.id/

Mulai tahun 2010, Departemen Pendidikan Nasional memberikan kesempatan bagi 20 ribu lulusan SMA/SMK/MA/MAK/Paket C tahun 2010 yang berprestasi dari keluarga kurang mampu secara ekonomi dan memiliki kemampuan akademik untuk melanjutkan ke perguruan tinggi melalui Program Beasiswa Bidik Misi.
Persyaratan
Persyaratan yang diperlukan untuk mendapatkan beasiswa Bidik Misi 2010:
  1. Siswa SMA/SMK/MA/MAK/paket C yang dijadwalkan lulus pada tahu 2010
  2. Berasal dari keluarga tidak mampu secara ekonomi
  3. Mempunyai prestasi akademik/kurikuler, ko-kurikuler maupun ekstra kurikuler.
  4. Dapat memilih program pendidikan Diploma III, IV dan sarjana S1
  5. Tiap calon mahasiswa dapat memilih maksimal dua program studi, baik dalam satu perguruan tinggi atau di dua perguruan tinggi yang berbeda.
Beasiswa ini diberikan sejak sang mahasiswa dinyatakan diterima dan memulai kegiatan akademik di perguruan tinggi, sampai menyelesaikan semester 8 (untuk program diploma IV dan S1) dan semester 6 (untuk program Diploma III) dengan ketentuan penerima beasiswa berstatus mahasiswa aktif.

Informasi mengenai Panduan dan Formulir pendaftaran bisa didapat pada link dibawah ini:
:: Informasi lengkap mengenai beasiswa Bidik Misi

Monday, January 25, 2010

Prosedur Pembayaran SPP Melalui BNI (UNSYIAH)

Demi meningkatkan pelayanan dan kemudahan dalam membayar SPP maka Universitas Syiah Kuala dan PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Telah menjalain kerjasama dalam hal membayar SPP. Mulai saat ini mahasiswa/i telah dapat melakukan pembayaran SPP diseluruh kantor cabang BNI, melalui ATM-ATM diseluruh indonesia ataupun melalui BNI Internet Banking.

 Skema Pembayaran dapat dilihat disini

Monday, October 26, 2009

Psikologi Islam

By: Prof. Dr. AChmad Mubarok MA

       Manusia adalah makhluk yang berfikir dan merasa serta berkehendak dimana perilakunya mencerminkan apa yang difikir, yang dirasa dan yang dikehendakinya. Manusia juga makhluk yang bisa menjadi subyek dan obyek sekaligus, disamping ia dapat menghayati perasaan keIslaman dirinya, ia juga dapat meneliti keberIslaman orang lain. Tetapi apa makna Islam secara psikologis pasti berbeda-beda, karena Islam menimbulkan makna yang berbeda-beda pada setiap orang. Bagi sebagian orang, Islam adalah ritual ibadah, seperti salat dan puasa, bagi yang lain Islam adalah pengabdian kepada sesama manusia bahkan sesama makhluk, bagi yang lain lagi Islam adalah akhlak atau perilaku baik, bagi yang lain lagi Islam adalah pengorbanan untuk suatu keyakinan, berlatih mati sebelum mati, atau mencari mati (istisyhad) demi keyakinan.

     Di sini kita berhadapan dengan persoalan yang pelik dan rumit, yaitu bagaimana menerangkan Islam dengan pendekatan ilmu pengetahuan, karena wilayah ilmu berbeda dengan wilayah Islam. Jangankan ilmu, akal saja tidak sanggup mengadili Islam. Para ulama sekalipun, meski mereka meyakini kebenaran yang dianut tetapi tetap tidak berani mengklaim kebenaran yang dianutnya, oleh karena tu mereka selalu menutup pendapatnya dengan kalimat wallohu a`lamu bissawab, bahwa hanya Allahlah yang lebih tahu mana yang benar. Islam berhubungan dengan Tuhan, ilmu berhubungan dengan alam, Islam membersihkan hati, ilmu mencerdaskan otak, Islam diterima dengan iman, ilmu diterima dengan logika.

       Meski demikian, dalam sejarah manusia, ilmu dan Islam selalu tarik menarik dan berinteraksi satu sama lain. Terkadang antara keduanya akur, bekerjasama atau sama-sama kerja, terkadang saling menyerang dan menghakimi sebagai sesat, Islam memandang ilmu sebagai sesat, sebaliknya ilmu memandang perilaku keIslaman sebagai kedunguan. Belakangan fenomena menunjukkan bahwa kepongahan ilmu tumbang di depan keagungan spiritualitas, sehinga bukan saja tidak bertengkar tetapi antara keduanya terjadi perkawinan, seperti yang disebut oleh seorang tokoh psikologi tranpersonal, Ken Wilber; Pernikahan antara Tubuh dan Roh, The Marriage of Sence and Soul.(Ken Wilber, The Marriage of Sence and Soul, Boston, Shambala,2000).

      Bagi orang Islam, Islam menyentuh bagian yang terdalam dari dirinya, dan psikologi membantu dalam penghayatan Islamnya dan membantu memahami penghayatan orang lain atas Islam yang dianutnya. Secara lahir Islam menampakkan diri  dalam bermacam-macam realitas; dari sekedar moralitas atau ajaran akhlak hingga ideologi gerakan, dari ekpressi spiritual yang sangat  individu hingga tindakan kekerasan massal, dari ritus-ritus ibadah dan kata-kata hikmah yang menyejukkan hati hingga agitasi dan teriakan jargon-jargon Islam (misalnya takbir) yang membakar massa. Inilah kesulitan memahami Islam secara ilmah, oleh karena itu hampir tidak ada definisi Islam yang mencakup semua realitas Islam. Sebagian besar definisi Islam tidak komprehensip dan hanya memuaskan pembuatnya.

       Sangat menarik bahwa Nabi Muhammad sendiri mengatakan bahwa, kemulian seorang mukmin itu diukur dari Islamnya, kehormatannya diukur dari akalnya dan martabatnya diukur dari akhlaknya (karamul mu’mini dinuhu, wa muru’atuhu `aqluhu wa hasabuhu khuluquhu)(HR. Ibn Hibban). Ketika nabi ditanya tentang amal yang paling utama, hingga lima kali nabi tetap menjawab husn al khuluq, yakni akhlak yang baik, dan nabi menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan akhlak yang baik adalah sekuat mungkin jangan marah, ( an la taghdlaba in istatha`ta). ( at Tarhib jilid III, h. 405-406).

       Jadi pengertian Islam itu sangat kompleks. Psikologi Islam mencoba menguak bagaimana Islam mempengaruhi perilaku manusia, tetapi keberIslaman seseorang juga memiliki Islam corak yang diwarnai oleh berbagai cara berfikir dan cara merasanya. Seberapa besar Psikologi mampu menguak keberIslaman seseorang sangat bergantung kepada paradigma psikologi itu sendiri.  Bagi Freud (mazhab Psikoanalisa) keberIslaman merupakan bentuk ganguan kejiwaan, bagi mazhab Behaviorisme, perilaku keberIslaman tak lebih sekedar perilaku karena manusia tidak memiliki jiwa. Mazhab Kognitip sudah mulai menghargai kemanusiaan, dan mazhab Humanisme sudah memandang manusia sebagai makhluk yang mengerti akan makna hidup yang dengan itu menjadi dekat dengan pandangan Islam. Dibutuhkan paradigma baru atau mazhab baru Psikologi untuk bisa memahami keberIslaman manusia.

           Psikologi Barat yang diassumsikan mempelajari perilaku berdasar hukum-hukum dan pengalaman kejiwaan universal ternyata memiliki bias culture, oleh karena itu teori psikologi Barat lebih tepat untuk menguak keberIslaman orang yang hidup dalam kultur Barat. Psikologi Barat begitu sulit menganalisis fenomena Revolusi Iran yang dipimpin Khumaini karena keberIslaman yang khas Syi’ah tidak tercover oleh Psikologi Barat, sebagaimana juga sekarang tidak bisa membedah apa makna senyum Amrozi ketika di vonis hukuman mati. KeberIslaman seseorang harus diteliti dengan the Indigenous Psychology, yakni psikologi yang berbasis kultur masyarakat yang diteliti. Untuk meneliti keberIslaman orang Islam juga hanya mungkin jika menggunakan paradigma  The Islamic Indigenous Psychology.

         Psikologi sebagai ilmu baru lahir pada abad 18 Masehi meski akarnya menhunjam jauh ke zaman purba. Dalam sejarah keilmuan Islam, kajian tentang jiwa tidak seperti psikologi yang menekankan pada perilaku, tetapi jiwa dibahas dalam kontek hubungan manusia dengan Tuhan, oleh karena itu yang muncul bukan Ilmu Jiwa (`ilm an nafs), tetapi ilmu Akhlak dan Tasauf. Meneliti keberIslaman seorang muslim dengan pendekatan psikosufistik akan lebih mendekati realitas keberIslaman kaum muslimin dibanding dengan paradigma Psikologi Barat. Term-term Qalb, `aql, bashirah (nurani), syahwat dan hawa (hawa nafsu)yang ada dalam al Qur’an akan lebih memudahkan menangkap realitas keberIslaman seorang muslim.

       Kesulitan memahami realitas Islam itu direspond The Encyclopedia of Philosophy yang mendaftar komponen-komponen Islam. Menurut Encyclopedia itu, Islam  mempunyai ciri-ciri khas (characteristic features of religion) sebagai berikut :

1.    Kepercayaan kepada wujud supranatural (Tuhan)
2.    Pembedaan antara yang sakral dan yang profan.
3.    Tindakan ritual yang berpusat pada obyek sakral
4.    Tuntunan moral yang diyakini ditetapkan oleh Tuhan
5.    Perasaan yang khas (takjub, misteri, harap, cemas, merasa berdosa, memuja) yang cenderung muncul di tempat sakral atau diwaktu menjalankan ritual, dan kesemuanya itu dihubungkan dengan gagasan Ketuhanan.
6.    Sembahyang atau doa dan bentuk-bentuk komunikasi lainnya dengan Tuhan
7.    Konsep hidup di dunia dan apa yang harus dilakukan dihubungkan dengan Tuhan
8.    Kelompok sosial  seiman atau seaspirasi.

       Urgensi pendekatan Indigenous Psychology bukan saja karena Islam itu sangat beragam, bahkan satu Islampun, Islam misalnya memiliki keberIslaman yang sangat kompleks. Orang Islam ada yang sangat rational, ada yang tradisional, ada yang “fundamentalis” dan ada yang irational. KeberIslaman orang Islam juga ada yang konsisten antara keberIslaman individual dengan keberIslaman sosialnya, tetapi ada yang secara individu ia sangat saleh, ahli ibadah, tetapi secara sosial ia tidak saleh. Sebaliknya ada orang yang kebeIslamanya mewujud dalam perilaku sosial yang sangat saleh, sementara secara individu ia tidak menjalankan ritual ibadah secara memadai. 

Sumber, http://mubarok-institute.blogspot.com

Wassalam,
agussyafii

Monday, October 19, 2009

Kecerdasan

Macam-macam Kecerdasan yang dimiliki setiap manusia. Yaitu :

Kecerdasan Spiritual

Biasa juga disebut dengan SQ (Spiritual Quotient). Kecerdasan spiritual adalah kemampuan untuk memahami makna dan nilai tertinggi dalam kehidupan. Orang yang memiliki SQ adalah orang yang memiliki kemampuan dalam mengatur dirinya (self-organizing) dan kemampuan bawaan untuk membedakan antara yang benar dan yang salah. Orang yang cerdas secara spiritual tidak memecahkan persoalan hidup hanya secara rasional atau emosional saja tetapi ia juga menghubungkannya dengan makna kehidupan secara spiritual. Oleh karena itu, Spiritual Intelligence memungkinkan anak mengetahui hal-hal yang bersifat intuitif.

Kecerdasan Interpersonal

Kecerdasan interpersonal, berhubungan dengan kemampuan untuk bisa mengerti dan menghadapi perasaan orang lain. Orang-orang ini seringkali ahli berkomunikasi dan pintar mengorganisasi, serta sangat sosial. Mereka biasanya baik dalam memahami perasaan dan motif orang lain.

Cirri-ciri lain dari kecerdasan interpersonal adalah : suka bersosialisasi dengan teman seusianya, berbakat menjadi pemimpin, menjadi anggota klub, panitia, atau kelompok informal di antara teman seusianya, mudah bergaul , senang mengajari anak-anak lain secara informal, suka bermain dengan teman seusianya, mempunyai dua atau lebih teman dekat, memiliki empati yang baik atau memberi perhatian lebih kepada orang lain, banyak disukai teman dan dapat memahami maksud orang lain walaupun tersembunyi.

Kecerdasan Intrapersonal

Kecerdasan intrapersonal, berhubungan dengan mengerti diri sendiri. Orang-orang ini seringkali mandiri dan senang menekuni aktifitas sendirian. Mereka cenderung percaya diri dan punya pendapat, dan memilih pekerjaan dimana mereka bisa memiliki kendali terhadap cara mereka menghabiskan waktu.

Ciri-ciri lain dari kecerdasan intrapersonal adalah : menunjukkan kemauan yang keras, memahami dengan baik kekurangan dan kelebihan diri , memberi saran kepada teman yang mempunyai masalah, tidak mengalami masalah jika ditinggalkan bermain atau belajar sendirian, mampu belajar dari kegagalan atau keberhasilan yang pernah dialami, memiliki gaya hidup dan gaya belajar dengan irama tersendiri, memiliki perencanaan diri yang baik, lebih memilih bekerja sendiri daripada bekerjasama dengan orang lain, dapat mengekspresikan perasaan secara akurat dan memiliki penghargaan yang baik terhadap diri sendiri.

Kecerdasan Kinestetik

Kecerdasan tubuh-kinestetik, berhubungan dengan pergerakan dan keterampilan olah tubuh. Orang-orang ini adalah para penari, aktor, para pengrajin dan atlet. Mereka memiliki bakat mekanik tubuh dan pintar meniru mimik serta sulit untuk duduk diam.

Ciri-ciri lain dari kecerdasan kinestetik adalah : selalu bergerak, mengetuk-ngetuk atau gelisah ketika duduk lama di suatu tempat, dapat membedakan materi penyusun dari barang yang disentuhnya (apakah terbuat dari kayu, besi, plastik, dll), suka bekerja dengan tanah liat, atau pengalaman yang melibatkan sentuhan tangan lain (misalnya, melukis dengan menggunakan jari), suka menari, berlari, melompat, gulat, atau kegiatan yang melibatkan gerakan motorik kasar lainnya, mampu menunjukkan kemahiran dalam bidang keterampilan, misalnya pertukangan, menjahit, atau memiliki koordinasai motorik halus yang baik dalam hal-hal lain, mampu mengekspresikan diri secara dramatis (seperti akting, pantomim, dll), suka membongkar-pasang barang dan lebih pandai dalam permainan gerak (lompat tali, kelereng, lari benteng, dll) dibanding teman seusianya.

Kecerdasan Linguistik

Kecerdasan Linguistik berkaitan dengan kemampuan bahasa dan dalam hal penggunaannya. Orang-orang yang berbakat dalam bidang ini senang bermain-main dengan bahasa, gemar membaca dan menulis, tertarik dengan suara, arti dan narasi. Mereka seringkali pengeja yang baik dan mudah mengingat tanggal, tempat dan nama.

Selain itu, ada beberapa hal lain yang berkaitan dengan cirri khas pada kecerdasan ini yaitu : mampu menuliskan pengalaman kesehariannya/pendapatnya secara lebih baik dibandingkan anak seusianya, memiliki kosa kata yang banyak dibandingkan anak seusianya dan menggunakannya dengan tepat, banyak membaca (buku, koran, majalah, artikel di internet, dan lain sejenisnya), banyak memberikan pendapat, masukan, kritikan, pada orang lain, mengeja kata asing dan baru dengan tepat, suka mendengarkan pernyataan-pernyataan lisan (cerita, ulasan radio, buku bersuara), menyukai pantun, permainan kata, serangkaian kata yang sukar diucapkan dan suka bercerita panjang lebar atau mampu menceritakan lelucon dan kisah-kisah.

Kecerdasan Matematis-Logis

Kecerdasan Matematis-logis berhubungan dengan pola, rumus-rumus, angka-angka dan logika. Orang-orang ini cenderung pintar dalam teka-teki, gambar, aritmatika, dan memecahkan masalah matematika, mereka seringkali menyukai komputer dan pemrograman.

Ciri-ciri lain dari kecerdasan ini adalah : banyak bertanya tentang cara kerja suatu hal, suka bekerja atau bermain dengan angka, lebih tertarik pada game matematika dan komputer dibandingkan permainan lain, suka mengerjakan teka teki logika atau soal-soal angka yang sulit, suka dan memperoleh nilai tinggi dalam pelajaran matematika, sering melakukan percobaan mengenai ilmu pasti, pada saat pelajaran maupun pada waktu luangnya, suka membuat kategori, hierarki, atau pola logis lain, suka permainan catur, main dam, atau permainan strategi lain, mudah memahami rumus dan cara kerjanya serta tepat dalam mengaplikasikannya di kehidupan sehari-hari dan pandai menggunakan pengetahuannya dan memberi pendapatnya untuk memecahkan persoalan sehari-hari.

Kecerdasan Musikal

Kecerdasan musikal, berkaitan dengan musik, melodi, ritme dan nada. Orang-orang ini pintar membuat musik sendiri dan juga sensitif terhadap musik dan melodi. Sebagian bisa berkonsentrasi lebih baik jika musik diperdengarkan; banyak dari mereka seringkali menyanyi atau bersenandung sendiri atau mencipta lagu serta musik.

Ciri-ciri lain dari kecerdasan musikal adalah : dapat menunjukkan nada yang tidak sumbang (dalam bernyanyi atau memainkan alat musik), memiliki suara yang merdu, mampu memainkan alat musik atau menyanyi bersama paduan suara atau kelompok, memiliki cara berbicara dan atau bergerak yang berirama, bersenandung tanpa sadar, menyanyikan lagu yang tidak diajarkan di kelas, bersemangat ketika musik dimainkan, mengetuk-ngetuk meja berirama saat sedang bekerja dan peka pada bunyi-bunyian di sekitar (misalnya; rintik hujan, suara klakson, dll).

Kecerdasan Naturalis

Kecerdasan naturalis memungkinkan anak untuk bisa berinteraksi dengan lingkungan. Selain itu, mereka yang memiliki kecerdasan ini cenderung memiliki kemampuan dalam Mengkombinasi banyak nilai-nilai budaya.

Ciri-ciri lain dari kecerdasan naturalis adalah berbicara banyak tentang binatang kesayangan, atau lokasi-lokasi alam favorit ketika bercerita di kelas, suka karya wisata di alam, ke kebun binatang atau ke museum purbakala, menunjukkan minat pada mata pelajaran yang berhubungan dengan sains, senang menyiram dan merawat tanaman, suka bermain di kandang kelinci, akuarium, atau rumah kaca, membawa binatang kecil/serangga, bunga, atau benda alam lain ke sekolah untuk dipamerkan kepada teman sekelas atau guru, dapat mengerjakan dengan baik tugas/pekerjaan yang bersinggungan dengan sistem kehidupan (misalnya topik biologi dalam pelajaran ilmu pasti, isu lingkungan dalam pelajaran ilmu sosial), menunjukkan minat pada ekologi, alam, tanaman atau binatang, bergabung dengan pecinta alam atau organisasi penyayang binatang dan menyerukan hak-hak binatang atau perlunya melindungi planet bumi di kelas.

Kecerdasan Spasial

Kecerdasan spasial, berhubungan dengan bentuk, lokasi dan membayangkan hubungan di antaranya. Orang-orang ini biasanya menyukai perancangan dan bangunan, disamping itu orang-orang dengan kecerdasan spatial pintar membaca peta, diagram dan bagan.

Ciri-ciri lain dari kecerdasan spatial ini adalah : cepat menangkap bentuk dari gambar abstrak, suka berimajinasi yang melampaui teman sebayanya, pandai menggambar, lebih mudah belajar dengan gambar daripada teks, suka kegiatan seni grafis, lukis, seni patung dan desain, dapat membuat konstruksi tiga dimensi yang menarik, suka mengerjakan puzzle, labirin, atau kegiatan visual sejenis lain. membuat corat-coret di buku kerja, kertas, atau bahan-bahan lain dan bisa memahami gambar dilihat dari sudut pandang yang berbeda (misal; tampak atas, tampak samping, tampak depan, dll).

Friday, October 2, 2009

Raja Tunggal HASUGIAN

Buku ini karya Bapatuaku (alm) Ir. W. Hasugian, dibuat supaya kami penerus marga Hasugian tahu sejarah dan asal-usulnya..

SEJARAH

“RAJA TUNGGAL-HASUGIAN”

BERSAMA ISTERINYA BORU

SUMANGGE br. NAINGGOLAN

PENYUSUN

Ir. WALDUIN HASUGIAN

UNTUK KALANGAN SENDIRI

KATA PENGANTAR

Sekalipun Sejarah "Raja Tunggal — Hasugian" bersama isterinya Boru Sumangge br. Nainggolan disusun secara ringkas dan diterbitkan baru untuk pertama kalinya. Namun buku sejarah "Raja Tunggal — Ha-sugian" ini setidaknya dapat memberikan gambaran bagaimana perjuangan Raja Tunggal bersama adiknya Orang Kaya Tua disamping tidak kalahnya perjuangan dan Boru Sumangge br. Nainggolan.

Dengan terbitnya buku sejarah ini, penyusun tidak bermaksud untuk membongkar masa lalu secara negatip, tetapi semata-mata hanya untuk mendorong keturunan Raja Tunggal — Hasugian khususnya, para pembaca pada umumnya agar dapat meneladani hasil perjuangannya maupun tingkah lakunya yang sangat baik sebagai seorang Patriot, juga agar keturunan Raja Tunggal - Hasugian maupun pembaca lainnya dapat mengetahui dengan jelas Silsilah Raja Tunggal - Hasugian serta bagaimana sejarah perjuangan Raja Tunggal — Hasugian sejak ± 400 tahun yang lalu hingga sampai terlaksananya Pemugaran Makam dan Sopo Raja Tunggal — Hasugian di Huta — Batu.

Penyusun menyadari bahwa buku ini belum se-sempurna mungkin untuk itu, kami mengharapkan dan Pengetuai/Partaki keturunan Sigodang Ulu — Sihotang maupun dan segala pihak untuk memberikan masukan berupa saran maupun koreksi bagi penyempurnaan buku ini. Kepada semua pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu yang turut membantu penyelesaian buku ini, penyusun mengucapkan banyak terima kasih. Semoga buku sejarah ini bermanfaat bagi kita semua sebagai sumbangan untuk mengembangkan daerah Huta — Batu dihari mendatang, serta untuk mempertebal rasa kekeluargaan kita.

Medan, 1 Juli 1988

Penyusun,

( lr. Walduin Hasugian )

BAB I

PEN DA H ULUAN

1. Buku Sejarah "Raja Tunggal-Hasugian" disusun sejak tahun 1987 dan diterbitkan pada tahun 1988, namun masih ada kekurangan yang perlu mendapat penelitian lebih lanjut untuk perbaikan dihari mendatang.

2. Buku sejarah ini diterbitkan bukan hanya untuk mengetahui dan mengenal Raja Tunggal — Hasugian akan tetapi untuk mengembangkan nilai-nilai dari perjalanan sejarah serta tingkah laku Raja Tunggal sendiri yang sangat berguna bagi keturunan Raja Tunggal-Hasugian sebagai pedoman penghayatan berkeluarga.

3. Bahan-bahan yang dipergunakan untuk menyusun buku sejarah Raja Tunggal - Hasugian diperoleh dari Bapak-bapak : Gr. S. Hasugian SH, Gr. A. Hasugian, Geser Hasugian, Paduma Hasugian serta Tokoh-tokoh dan Partaki keturunan Raja Tunggal-Hasugian.

4. Secara keseluruhan buku sejarah ini terdiri dari 9 (sembilan) Bab yang masing-masing terdiri dari :

Bab II : Silsilah Raja Tunggal.

Bab III : Raja Tunggal berada ditengah-tengah keluarga Sigodang Ulu — Sihotang.

Bab IV : Raja Tunggal meninggalkan Tano Sihotang.

Bab V : Perkawinan Raja Tunggal dengan Boru Sumangge br. Nainggolan.

Bab VI : RajaTunggal memiliki tanah.(Tano Pauseang).

Bab VII : Raja Tunggal mendatangkan keluarga Sigodang Ulu-Sihotang dan Tano Sihotang.

Bab VIII : Pemugaran Makam dan Sopo Raja Tunggal — Hasugian di Huta- Batu

Bab IX : Penutup

BAB II

SILSILAH RAJA TUNGGAL

1. Untuk dapat mengenal Raja Tunggal maka perlu dibuat secara terperinci silsilah Raja Tunggal agar identitasnya jelas. Akan tetapi silsilah itu kita mulai dari Si Raja Oloan.

2. Si Raja Oloan ialah ayah bersama dari Siganjang Ulu (Naibaho), Sigodang Ulu (Sihotang), Bakkara, Sinambela, Sihite dan Manullang. Sedang ibu yang melahirkan Naibaho, Sihotang, Bakkara, Sinambela, Sihite dan Manullang ialah boru Limbong dan boru Pasaribu.

3. Dua orang anak Si Raja Oloan mempunyai bentuk kepala yang ganjil yakni : anak pertama bernama : Siganjang Ulu dimana bentuk kepalanya benjol agak memanjang tidak seperti kepala manusia biasa, sedang anak yang kedua bernama: Sigodang Ulu, dimana bentuk kepalanya banyak benjol-benjol (Marbuntul-buntul do uluna ndang lemes songon ulu ni jolma nasomal).

4. Si Raja Oloan merasa malu bilamana kedua anaknya yang ganjil bentuk kepalanya hadir pada pesta yang akan diadakannya. Oleh karena itu Si Raja Oloan mengambil suatu inisiatip yakni dengan menyuruh kedua anaknya itu pergi kehutan mencari "hau borotan dan rotan untuk dipergunakan dipesta yang akan diadakan nanti", karena hau borotan itu sangat diperlukan.

Kedua anaknya itupun pergi tanpa curiga akan maksud ayahnya. Setelah kedua anaknya itu pergi kehutan lalu ayahnya mengadakan pesta tanpa menunggu kehadiran kedua anaknya itu dari hutan. Hanya anaknya yang empat lagi yaitu : Bakkara, Sinambela, Sihite dan Manullang hadir dipesta itu.

Waktu Siganjang Ulu dan Sigodang Ulu pulang dan hutan membawa hau borotan dan rotan mereka terkejut melihat keadaan di rumah dimana masih banyak daun-daunan berserakan dihalaman rumah itu menandakan baru selesai melaksanakan pesta tanpa setahu mereka berdua. Sejak peristiwa itulah kedua anaknya itu tidak betah tinggal bersama orangtuanya Si Raja Oloan di Bakkara serta merencanakan pergi meninggalkan tempat kelahirannya dan keluarganya.

5. Kepergian Siganjang Ulu dan Sigodang Ulu membawa sejarah tersendiri dimana : Siganjang Ulu pergi kesuatu tempat dikaki Bukit Pusuk Buhit sehingga namanya menjadi : "Naibaho" berasal dari kata Udan Baho = ambolas yakni ketika Siganjang Ulu kawin dan anaknya lahir tepat pada waktu hujan baho = ambolas sehingga diberi nama: "Naibaho"

Sigodang Ulu pergi ke tempat lain dimana tempat itu berada yang berbatasan kesebelah Utara dengan Danau Toba, ke sebelah Selatan dengan Hutan yang banyak ditumbuhi rotan, ke sebelah Timur dengan Tanah Tamba dan ke sebelah Barat dengan Tanah Harian Boho dan tempat ini disebut : Tano Sihotang berhubung ditempat ini banyak rotan (Rotan : Hotang).

Setelah Sigodang Ulu kawin dan memakai marga Sihotang. Sehingga Sigodang Ulu disebut Sigodang Ulu-Sihotang.

6. Yang pertama dikawini Sigodang Ulu ialah boru Tamba. Setelah boru Tamba meninggal, kawin pulalah Sigodang Ulu dengan boru Simbolon. Oleh karena itu boru Simbolon adalah istri pengganti dari boru Tamba. Jelaslah, istri yang kedua ini bukan dimadu.

7. Hasil perkawinan Sigodang Ulu dengan boru Tamba dan boru Simbolon adalah : 7 (tujuh) anak laki-laki bernama :

- Pardabuan

- Sorganimusu

- Torbandolok

- Randos

- Marsoit

- Raja Tunggal

- Orang Kaya Tua:

dan anak perempuan bernama : Sobosihon.

Sobosihon yang kawin dengan Raja Marsundung.Perkawinan Raja. Marsundung Simanjuntak dengan Sobosihon adalah istri pengganti Boru Hasibuan yang meninggal. Hasil perkawinan Sobosihon dengan Raja Marsundung mempunyai tiga orang anak bernama : Mardaup, Sitombuk dan Huta Bulu yang disebut Simanjuntak Si Tolu Sada Ina.

8. Dengan demikian Raja Tunggal adalah anak yang ke-enam dari Sigodang Ulu - Sohotang. Dimana Raja Tunggal bersama adiknya Orang Kaya Tua anak yang ke-tujuh, yang membawakan marga Hasugian. Penjelasan lebih lanjut dapat dilihat dalam bab berikut

BAB III

RAJA TUNGGAL BERADA DITENGAH-TENGAH

KELUARGA SIGODANG ULU SIHOTANG

1. Sebagaimana diuraikan dalam Bab II bahwa anak laki-laki Sigodang Ulu—Sihotang sebanyak : 7 (tujuh) orang. Pada waktu itu anak yang paling besar dan dapat bekerja kehutan adalah : anak pertama, kedua, ketiga, keempat dan kelima sehingga mereka berlima sehari-hari bekerja bertani dan mencari rotan kehutan sedang anak yang dua orang lagi yakni : anak keenam dan anak ketujuh tinggal dirumah, oleh karena merasa belum mampu melakukan pekerjaan seperti pekerjaan yang dilakukan abangnya yang lima orang itu.

2. Dengan demikian anaknya yang lima orang itulah setiap hari bekerja keras untuk mencari nafkah mereka. Namun pada waktu makan selalu kepada anak yang dua orang itu diberikan makanan yang paling banyak pada hal anak yang lima orang itulah yang setiap hari bekerja keras mencari nafkah mereka, dan hal ini tidak wajar dihati dan pikiran anak yang lima orang itu.

3. Oleh karena Raja Tunggal dan adiknya tinggal dirumah, maka kesempatan ini dipergunakan Sigodang Ulu—Sihotang (Ayahnya) mengajar anaknya yang dua orang itu ilmu tradisional (Hadatuon) dan ilmu alat perang yakni : ULTOP dan TALI SOLANG yang lama kelamaan ilmu ini menjadi tertarik bagi Raja Tunggal sendiri.

4. Oleh karena Raja Tunggal sudah tertarik dan dipengaruhi akan ilmu tradisional (Hadatuon), ULTOP dan TALI SOLANG sehingga dia bersama adiknya tidak mau membantu abangnya bekerja. Sedang pada waktu makan selalu mereka berdua lebih banyak mendapat makanan (nasi) daripada abangnya yang lima orang itu. Ketika mereka tidak sama-sama makan selalu kepada anak yang lima orang itu ditinggalkan makanan lebih sedikit bila dibandingkan dengan bagian anak yang dua orang itu dan hal ini dibenarkan oleh ibu mereka yakni boru Simbolon yang lama kelamaan anaknya yang lima orang itu menjadi benci terhadap adiknya yang dua orang itu.

5. Setelah Sigodang Ulu-Sihotang (Ayahnya) meninggal maka kebencian yang selama ini masih terpendam dihati yang lima orang itu terhadap adiknya dan lbunya boru Simbolon menjadi kenyataan, dimana mereka mencari alasan yang tepat agar adiknya itu dapat dipukul dan bila perlu dibunuh, hal ini kelihatan ketika adiknya Raja Tunggal selesai makan dan turun ke halaman rumah kemudian memotong sedikit ujung rotan yang kebetulan baru selesai dikumpul abangnya itu yang dipergunakan Raja Tunggal untuk menjungkit sisa makanan digiginya, lalu melihat keadaan itu Randos marah dan langsung memukul serta mengancam untuk dibunuh dan berkata : Kami telah bersusah payah mencari rotan tersebut dari hutan sedang engkau enak-enak memotong. Akan tetapi Raja Tunggal tidak mau melawan abangnya itu karena dia sadar akan aturan berabang adik walaupun sebenarnya dia dapat melawan abangnya itu karena dia mempunyai ilmu, akan tetapi ilmu yang dipelajarinya itu tidak banggakannya. Begitu abangnya itu memarahi 'Raja Tunggal selalu tidak melawan dalam bentuk apapun.

6. Oleh karena ancaman dari abangnya itu dan dirasa mereka tidak aman lagi berkumpul dengan abangnya maka Raja Tunggal merencanakan akan lari meninggalkan Tanah Sihotang. Dari keadaan inilah kata : HASUGIAN berasal dari kata : Sugi (benci = Sogo) atau HASOGOAN dimana abangnya yang lima orang itu telah membenci Raja Tunggal dan Orang Kaya Tua. Oleh sebab itu lama kelamaan marga Raja Tunggal dan Orang Kaya Tua. memakai marga HASUGIAN.

BAB IV

RAJA TUNGGAL MENINGGALKAN TANO SIHOTANG

1. Oleh karena kesatuan dan kedamaian dalam keluarga Sigodang Ulu-Sihotang tidak ada lagi disebabkan kemarahan, kebencian yang berlanjut terus dan abang-abangnya terhadap adiknya Raja Tunggal dan Orang Kaya Tua tidak dapat dihilangkan begitu saja maupun, ancaman untuk dibunuh juga tidak akan dapat dihindari.

Hal ini membuat Raja Tunggal termenung memikirkan hari depan keluarga itu sendiri serta berusaha menghindari dari malapetaka yang bakal terjadi nanti. Kadang-kadang Raja Tunggal berpikir apakah dengan melawan abang-abangnya yang mengancam itu merupakan jalan yang baik, karena dia sendiri akan mampu melawan mengingat ilmu yang dimilikinya. Namun dia bimbang memilih cara tersebut. Akhirnya Raja Tunggal membuat rencana yang terbaik yaitu pergi meninggalkan keluarga bukan melawan walaupun dalam keadaan bersedih.

2. Rencana kepergiannya meninggalkan keluarga disampaikan Raja Tunggal kepada ibunya boru Simbolon pada saat abangnya berada dihutan mencari rotan. Mendengar ucapan anaknya itu Ibunya boru Simbolon dengan tegas mengatakan : Jika engkau pergi meninggalkan kami maka saya bersama adikmu Orang Kaya Tua ikut bersama-sama kemana engkau pergi, karena saya sendiripun turut dimarahi dan dibenci oleh abang-abangmu selama ini dimana saya dituduh pilih kasih terhadap engkau dan adikmu, padahal saya tidak ada pilih kasih diantara semua anakku.

3. Akhirnya mereka bertiga terpaksa berangkat malam meninggalkan kampung halaman dan keluarga dibarengi dengan rasa pilu dan bersedih menuju tujuan yang belum diketahui mereka melalui hutan belantara yang arahnya tidak diketahui. Demikianlah mereka dihutan itu berlindung sambil mencari makanan seadanya untuk menyelamatkan hidup mereka sehari-hari. Kepergian mereka hanya membawa ilmu tradisional yang dimiliki Raja Tunggal yakni : Ultop dan Tali Solang yang dipergunakan mereka sebagai alat untuk mencari binatang-binatang yang dapat dimakan selama dihutan itu.

"Ultop" : digunakan untuk melawan musuh dan menangkap binatang ganas, binatang buruan karena sedikit saja kena alat ini langsung mati.

"Tali Solang" : digunakan melumpuhkan manusia ataupun binatang, bila bekas pijakan baru dipukul dengan Tali Solang dan yang empunya bekas pijakan baru tadi langsung jatuh dan pingsan tidak dapat berjalan lagi. Jadi kalau seekor binatang baru lewat dimana bekas pijakan binatang tersebut dipukul dengan Tali Solang maka binatang itupun pingsan dan lumpuh.

Disamping Ultop dan Tali Solang Raja Tunggal juga memiliki ilmu menerbangkan alu (Ilmu—Pahabangkon Losung), ilmu industri kecil yakni pembuatan meriam, sinapan batak.

Catatan : Masih ada bekas meriam yang dibuat Raja Tunggal dan diserahkan kepada keturunannya. Kemudian keturunannya ini membawa ke Aceh Selatan dan ditempat inilah alat ini berada sampai sekarang.

4. Selama mereka tinggal dihutan belantara itu hanya makan daging dan ikan yang diperolehnya dengan mempergunakan Ultop, tali Solang dan mengail disungai. Karena sudah begitu lama mereka tinggal dihutan dan tidak pernah bertemu manusia serta pakian yang mereka bawa sudah mulai koyak-koyak. Akhirnya mereka pergi menyelusuri hutan-hutan tersebut mencari dimana dekat kampung dengan cara memanjat pohon kayu agar bisa kelihatan dimana ada asap atau kampung namun mereka tidak berhasil.

Kemudian mereka berjalan menyelusuri hutan dan sungai sampailah mereka kesuatu tempat (Tempat ini disebut Dolok) Martippus sampai sekarang) dan ditempat inilah mereka tinggal beberapa hari lamanya karena sudah lelah dan ibunya boru simbolon dalam keadaan sakit.

Melihat keadaan ibunya sudah sakit, Raja Tunggal dan Orang Kaya Tua jadi bertambah susah untuk memikirkan pengobatan ibunya itu. Dengan bersusah payah mereka berdua mengobati ibunya boru Simbolon yang kesudahannya tidak berhasil dan akhirnya ibunya boru Simbolon meninggal ditempat itu. Mereka berduapun meraung-raung dihadapan mayat ibunya itu dan tidak tahu kepada siapa mereka meminta bantuan. Dengan kesepakatan mereka berdua maka ibunya yang telah meninggal dikubur ditempat itu.

5. Setelah beberapa hari mereka berdua berkabung ditempat itu, direncanakanlah pergi meninggalkan makam ibunya boru Simbolon ketempat dimana ada asap dan kampung. Pagi-paginya mereka berdua berangkat meninggalkan makam ibunya boru Simbolon dan terus berjalan menyelusuri hutan dan sungai akan tetapi sorenya kembali ketempat makam ibunya itu tanpa disadari mereka. Demikianlah mereka lakukan berulang-ulang setiap mereka berangkat menmggalkan makam ibunya selalu kembali ketempat makam ibunya sehingga membingungkan mereka berdua, kenapa selalu kembali ketempat makam ibu tercinta ini ?

6. Pada suatu ketika dimana mereka duduk termenung memikirkan peristiwa itu, tiba-tiba datanglah burung Elang yang bertengger dekat mereka berdua dan bersuara : Huliss' Huliss' Huliss' Bila kalian berdua tidak ingin bolak-balik ketempat ini jangan tinggalkan ibumu.

Raja Tunggal dan Orang Kaya Tua pun dengan tekun mengikuti dan mengartikan suara burung Elang itu dan bertanya. Bagaimana cara yang kami perbuat ? Burung Elang menyahut - "Bakar mayat ibumu lalu abunya bungkus serta bawa kemana kalian pergi. Dengan demikian ibumu tetap ikut bersama kalian.

Dan akhirnya Raja Tunggal bersama adiknya melaksanakan apa yang disuarakan Burung Elang itu. Sejak dari situlah maka tempat makam ibunya boru Simbolon disebut Dolok Martippus dan sampai sekarang masih ada.

Begitu Raja Tunggal dan Orang Kaya Tua selesai melaksanakan apa yang telah disuarakan burung Elang itu merekapun berangkatlah dan membawa abu mayat ibunya boru Simbolon yang telah dibungkus. Ternyata muluslah perjalanan mereka dan tidak kembali lagi ketempat makam ibunya itu, seperti sebelum dilaksanakan apa yang disuarakan Burung Elang tadi.

7. Setelah beberapa lama mereka meninggalkan Dolok Martippus mencari dimana ada asap dan kampung maka tiba-tiba dari jauh mereka melihat ada asap dan ladang serta pondok. (Tempat ini disebut Dolok So Maila sampai sekarang). Melihat keadaan itu mereka berduapun bergembira disamping bertanya siapa yang berada dipondok itu ? Sedang mereka berdua tidak berbusana lagi.

8. Dengan bergembira mereka mempercepat langkah agar cepat sampai ditempat tersebut. Setelah Matahari terbenam mereka berdua tiba diladang tersebut dan dimana yang menjaga ladang itu kebetulan telah pulang ke kampungnya. Ternyata diladang itu ada jagung yang kemudian diambil mereka berdua dan dibawa kepondok yang masih ada api dan mereka bakar lalu dimakan dengan lahapnya, maklum sudah bertahun-tahun mereka tidak pernah makan apa-apa selain daging, ikan dan daun-daunan dihutan dan gunung yang mereka lalui selama ini. Dipondok inilah mereka tidur dengan pulas dan paginya mereka pergi kehutan meninggalkan tempat itu serta membawa jagung untuk bahan makanan mereka. Hal ini mereka lakukan karena mereka tidak berbusana lagi dimana mereka malu kalau bertemu dengan sipemilik lading itu dan mencari jalan bagaimana caranya mereka berdua dapat berkomunikasi dengan simpemilik ladang itu. Rupanya sipemilik ladang itu ialah : Datu Parulas Nainggolan dan yang setiap hari menjaga ladang itu ialah putri satu-satunya yang bernama : Boru Sumangge. Tiap pagi sampai sore Boru Sumangge berada di ladang itu untuk menjaga ladang tersebut. Waktu Boru Sumangge melihat keadaan di pondok itu dimana banyak kulit jagung berserakan kemudian apipun masih hidup di pondok itu. Tercenganglah dia siapa gerangan yang datang ke pondok dan yang mencuri jagung ini ? Lalu Boru Sumangge menyelidiki dikampungnya siapa yang tidak ada dirumah pada saat itu. Ternyata tidak ada seorangpun penduduk di kampung itu yang mencuri jagung serta menginap di pondok itu. Memang ada musuh Datu Parulas Nainggolan dan kampung Banuarea akan tetapi tidak mungkin dan Banuarea datang mencuri jagung dan lagi pula caranya agak berbeda dengan yang biasa.

9. Setelah Boru Sumangge pergi meninggalkan ladang itu lalu Raja Tunggal dan Orang Kaya Tua pun masuk ke pondok, yang ada di ladang itu, dan paginya mereka berdua pergi ke hutan mencari Rusa dan lkan. Pada suatu saat Raja Tunggal dan Orang Kaya Tua mendapat binatang Rusa dan lkan yang besar dimana sebagian daging Rusa dan lkan tersebut digantungkan di pondok itu lalu mereka pergi meninggalkan pondok itu. Ketika Boru Sumangge tiba di pondok itu terkejut melihat daging Rusa dan lkan tergantung. Boru Sumangge selalu bertanya dalam dirinya siapa yang selalu menginap di pondok ini ? dan mereka rupanya bukan manusia sembarangan mengingat ; Mereka mengambil jagung akan tetapi mereka menggantungkan daging rusa yang besar serta ikan yang besar pula, tentu ini suatu hal yang aneh. Lalu Boru Sumangge membawa daging rusa dan ikan tersebut ke kampungnya sekaligus memberitahukan keadaan itu kepada ayahnya Datu Parulas. Kemudian ayah Boru Sumangge tercengang mendengar berita itu dan bertanya siapa itu orangnya ?

10. Untuk dapat segera mengetahui siapa yang selalu menginap di pondok itu maka Boru Sumangge mengambil suatu inisiatip yakni dengan mempercepat dari biasanya pergi ke ladang. Demikianlah pada suatu waktu Boru Sumangge mempercepat keberangkatannya ke ladang dan dengan langkah yang pelan-pelan berjalan menuju pondok itu. Begitu Boru Sumangge sampai di pondok itu terdengarlah suara orang dan dalam pondok itu. Lalu Boru Sumangge berseru : Siapa yang berada di pondok ini ? Terkejutlah Raja Tunggal dan Orang Kaya Tua mendengar ada suara dan luar pondok itu, serta menjawab : Kami berdua di pondok ini akan tetapi kami tidak berbusana lagi sehingga kami malu menampakkan diri dan kalau bisa kami mohon diberi kain agar kami membuka pintu dan menampakkan diri. Mendengar suara itu Boru Sumangge melemparkan kain selendangnya dari jendela pondok itu, lalu Raja Tunggal dan Orang Kaya Tua memakai kain selendang itu sehingga merekapun dapat bertatap muka dan bercerita lebih lanjut. Raja Tunggal menceritakan perjalanan dan kisah mereka kepada Boru Sumangge.

Mendengar kisah perjalanan mereka sejak berangkat hingga sampai di pondok itu serta pengalaman-pengalaman yang mereka alami bertahun-tahun. Boru Sumangge sangat tertarik akan cerita mereka berdua dan juga tertarik atas tutur kata yang sopan dan ramah disertai dengan bentuk badan yang tampan. Kemudian Boru Sumangge berkata kepada mereka berdua : Tunggulah saya dipondok ini, karena saya pulang sebentar ke rumah mengambil pakaian sekaligus melaporkan kepada ayah agar kita nanti sama-sama berangkat ke rumah kami yang tidak begitu jauh dari pondok ini.

Raja Tunggal dan Orang Kaya Tua berjanji akan menunggu Boru Sumangge dipondok itu. Lalu boru Sumangge pun berangkat ke rumahnya serta membawa daging rusa dan ikan yang sebelumnya telah disediakan mereka berdua ketika mereka menginap dipondok itu. Melihat boru Sumangge datang belum pada waktunya, ayahnya heran dan bertanya, kenapa begitu cepat datang dan dari siapa daging serta ikan itu ? Apa yang terjadi ? Lalu Boru Sumangge menjawab Ayahnya : Saya telah bertemu dengan orang yang saya ceritakan beberapa waktu yang lalu dan yang selalu menggantungkan daging dan ikan dipondok kita itu. Hari inipun saya membawa daging dan ikan. Dan telah berjanji bahwa mereka menunggu saya untuk dibawai pakaian berhubung karena mereka tidak berbusana lagi. Kelihatannya mereka berdua baik-baik dan tampan kemudian dapat membantu kita nanti untuk melawan musuh kita dari Banuarea yang selama ini selalu mengancam keluarga kita. Mendengar laporan putrinya Boru Sumangge, ayahnya Datu Parulas memerintahkan putrinya agar cepat kembali ke pondoknya dengan membawa pakaian dan dapat dibawa segera kerumah.

11. Memang selama ini Datu Parulas yaitu ayah Boru Sumangge telah berjanji : Siapa yang dapat menaklukkan musuhnya dari Banuarea akan diangkat menjadi menantunya. Untuk inilah maka datu Parulas ayah dari Boru Sumangge bergembira sekiranya orang yang dilaporkan putrinya Boru Sumangge betul-betui dapat nanti menaklukkan musuhnya dari Banuarea. Begitu Boru Sumangge tiba dipondoknya itu terus menyerahkan pakaian yang di bawanya kepada Raja Tunggal dan Orang Kaya Tua yang masih terus berada didalam pondok itu menunggu Boru Sumangge. Setelah Raja Tunggal dan Orang Kaya Tua selesai berpakaian, merekapun sama-sama berangkat menuju rumah Datu Parulas. Kelihatannya mereka berdua sangat bergembira karena sudah dapat bertemu dengan manusia. Dimana beberapa tahun berkelana dihutan belantara tanpa melihat orang dan makanan. Kedatangan Raja Tunggal dan Orang Kaya Tua disambut Datu Parulas dengan gembira dan terus bercerita tentang kisah perjalanan mereka. Kemudian Datu Parulas bertanya. Kalau begitu dari mana asal kalian berdua ? Lalu mereka jawab : Kami berasal dari Tano Sihotang ! Dan marga apa ? Jawab mereka : Marga kami berdua adalah marga "Sihotang Si Sugi roha ni dongan". (Sihotang yang selalu dibenci saudara). Setelah selesai mereka bercerita lalu merekapun makan bersama dibarengi dengan ketawa karena sama-sama bergembira.

BAB V

PERKAWINAN RAJA TUNGGAL DENGAN

BORU SUMANGGE BR. NAINGGOLAN

1. Datu Parulas Nainggolan merasa gembira dengan hadirnya Raja Tunggal dan Orang Kaya Tua demikian juga mereka berdua sangat senang tinggal bersama keluarga Datu Parulas karena sudah lama mereka berkelana dihutan belantara tanpa melihat orang dan makanan. Setelah selesai mereka makan bersama sebagai pertanda menyambut tamu, Datu Parulas menanyakan mereka : Kelihatannya kalian seperti "Ulubalang" oleh karena itu kami mengharapkan dapat membantu kami melawan musuh kami selama ini dari Banuarea. Dan bila mana berhasil salah satu dari kalian berdua menjadi menantu saya. Mendengar ucapan Datu Parulas maka Raja Tunggal menjawab : Kami bukan "Ulubalang", kami adalah manusia biasa yang tidak tahu apa-apa akan tetapi kami berusaha membantu bapak sesuai dengan kemampuan yang ada pada kami tanpa mengharapkan sesuatu, karena kewajiban kami menolong orang yang memang perlu ditolong sedaya mampu yang ada pada kami tanpa meminta imbalan apapun. Mendengar jawaban Raja Tunggal, maka Datu Parulas merasa senang sekali menerima jawaban tamunya itu. Dia tidak menyangka kalimat demikian muncul dari tamunya. Walaupun demikian jawaban tamunya itu, Datu Parulas yakin bahwa tamunya itu dapat membantunya serta mengalahkan musuhnya dari Banuarea.

2. Setelah Datu Parulas memberitahukan kepada Raja Tunggal dan Orang Kaya Tua bahwa sudah dapat dilaksanakan perlawanan terhadap musuhnya dan Banuarea maka Raja Tunggal dan Orang Kaya Tua mempersiapkan Ultop, Tali Solang dan llmu Pahabangkon Losung. Melihat persiapan Raja Tunggal dan Orang Kaya Tua Datu Parulas Nainggolan terkejut disamping bergembira karena belum pernah melihat alat-alat tersebut serta yakin bahwa musuhnya akan kalah. Raja Tunggal dan Orang Kaya Tua menjelaskan cara pemakaian dan akibatnya dan alat-alat tersebut kepada Datu Parulas. Tiba saat yang ditentukan maka Raja Tunggal dan Orang Kaya Tua berangkat menuju tempat perang yaitu arah ke Banuaera dan disinilah dipergunakan Raja Tunggal dan Orang Kaya Tua Ultop, Tali Solang, dan Pahabangkon Losung yang menyebabkan musuh Datu Parulas Nainggolan dari Banuarea lari terbirit-birit dan menyerah karena tidak mampu mereka melawan keunggulan Ultop, Tali Solang dan Pahabangkon Losung yang dipergunakan oleh Raja Tunggal dan Orang Kaya Tua. Kemenangan Datu Parulas Nainggolan cukup tersebar di kampung itu dan membawa berita yang menggembirakan didaerah kerajaan Datu Parulas Nainggol karena selama ini musuh dari Banuarea datang mengancam keluarga Datu Parulas sekarang menyerah kalah.

3. Oleh karena kegembiraan yang dialami Datu Parulas berhubung karena sudah resmi menang melawan musuhnya dari Banuarea maka diadakanlah pesta besar sebagai pertanda menang serta mengucapkan terima kasih kepada Raja Tunggal dan Orang Kaya Tua. Dan sesuai dengan janji Datu Parulas kepada Raja Tunggal di Orang Kaya Tua maka dipanggillah mereka berdua oleh Datu Parulas sambil menjelaskan bahwa anaknya perempuan hanya satu orang dan anak laki-laki tiga orang. Oleh sebab itu siapakah diantara kalian berdua yang menjadi menantu saya? Lalu Orang Kaya Tua menjawab : yang tertua diantara kami berdua adalah Raja Tunggal dan dialah yang pantas duluan kawin walaupun dalam hatinya tertarik kepada Boru Sumangge. Akan tetapi karena adat maka dia tidak pantas menantu Datu Parulas. Mendengar ucapan Orang Kaya Tua, Raja Tunggal selalu rendah hati mengatakan kepada adiknya agar dia saja menjadi menantu Datu Parulas serta mendesak duluan kawin, namun Orang Kaya Tua menolak serta mengatakan : Tidak baik aku duluan kawin dari engkau karena engkau yang tertua. Bagaimana aku duluan kawin sedang engkau adalah abangku ? Melihat perundingan Raja Tunggal dan Orang Kaya Tua, Datu Parulas Nainggolan setuju Raja Tunggal menjadi menantunya berhubung karena Datu Parulas mempunyai hanya satu orang putrinya, yaitu Boru Sumangge. Dengan demikian jadilah Datu Parulas memberkahi Putrinya Boru Sumangge dengan menantunya Raja Tunggal dalam pesta adat dan resmilah mereka direstui menjadi keluarga Datu Parulas.

Catatan :

1. Pada waktu diadakan pesta perkawinan Raja Tunggal dengan Boru Sumangge br. Nainggolan, "Ultop" dijadikan mahar perkawinan sehingga "Ultop" berada ditangan Datu Parulas sejak dari situ Datu Parulas disebut "Datu Parulas Parultop".

2. Tali Solang hilang secara gaib di Aek Gaman. waktu Orang Kaya Tua meletakkan diatas batu besar kemudian mereka mandi, lalu tali solang hilang secara gaib masuk kedalam batu besar tersebut dan sejak itu tempat hilangnya tali solang tersebut disebut Namo Pahat di Aek Gaman.

BAB VI

RAJA TUNGGAL MEMILIKI TANAH

(TANAH PAUSEANG)

1. Raja Tunggal dan Istrinya beserta adiknya sementara masih tinggal bersama Mertunya di Pusu.

Setelah beberapa bulan lamanya mereka tinggal bersama mertuanya di Pusuk, barulah Datu Parulas menyerahkan kepada menantunya itu sebidang tanah sebagai tempat tinggal mereka yaitu di Huta—Batu. Dimana tempat ini sangat baik untuk tempat tinggal dan berladang karena dari tempat ini kelihatan kampung Datu Parulas di Pusuk dan kampung Mertua Datu Parulas sendiri yaitu Tuan Nahodaraja Simbolon di Sionomhudon. (Datu Parulas Nainggolan kawin dengan putri Nahodaraja Simbolon bemama Bintang Maria br. Simbolon sedang anak laki-laki Tuan Nahodaraja Simbolon enam orang yakni : Tinambunan, Tumanggor, Mahari Turutan, Pinayungan dan Nahampun. Sedang Orang Kaya Tua kawin dengan cucu Tuan Nahodaraja yaitu Tagan Sombereng br. Tinambunan).

2. Setelah Raja Tunggal dan Istrinya beserta Adiknya tinggal di Huta—Batu datanglah saudara Boru Sumangge br. Nainggolan (lboto na Sitolu halaki) berkunjung dan kebetulan ada pohon jeruk yang sedang berbuah ditempat itu dan mereka panjat. Karena kegembiraan mereka bertiga memanjat pohon jeruk tersebut sehingga saudaranya yang tertua (lbotona na tertua) memanjat sampai kepuncak (Punsukna) dan dari sinilah diambil buahnya lalu diberikan kepada kakaknya Boru Sumangge. Dan saudaranya yang kedua memanjat hanya sampai ditengah dan langsung diambil (Buat on ma tu ahu) saja buahnya lalu diberikan kepada kakaknya Boru Sumangge. Sedang saudaranya yang ketiga tidak memanjat hanya dipangkal pohon jeruk tersebut menunggu pemberian mereka (Pangalean na, gabe taruli = Mahulae, Angkangna do naloja manjangkit hape ibana sandiri taruli). Dan dari kejadian ini maka nama sehari-hari, ketiga saudara Boru Sumangge atau anak laki-laki Datu Parulas bernama :'Pusuk, Buaton dan Mahulae.

3. Oleh karena tempat dan ladang yang diberikan Datu Parulas Nainggolan kepada menantunya hanya menempati dan mengusahai bukan milik mereka sehingga lama-lama Raja Tunggal merasa kurang puas dan masih berpikir kemasa depan. Dimana tempat dan lading yang menjadi milik tetap ? Untuk itu Raja Tunggal menyampaikan hasil pikirannya itu kepada istrinya bagaimana caranya supaya kita mempunyai tempat tinggal menetap dan memiliki tanah perladangan yang menetap. Lama mereka berdua memikirkan akan hal tersebut. Namun akhirnya Boru Sumangge mendapat pikiran yang baik dan disampaikan kepada suaminya sebagai berikut : Saya berpurak-purak meninggalkan engkau dan pergi kerumah ayah di Pusuk. Disana aku tinggal serta kukatakan bahwa aku tidak mau lagi bersamamu sehingga nanti Ayah menanyakan kenapa demikian ? Mendengar saran istrinya itu langsung Raja Tunggal setuju cara yang diajukan istrinya. Dan besoknya istrinya Boru Sumangge berangkat dari Huta—Batu menuju rumah orang tuanya Datu Parulas di Pusuk. Melihat putrinya datang, Datu Parulaspun bergembira karena sudah rindu, akan tetapi dia heran kenapa tidak ikut menantunya lalu ditanya : Kenapa tidak ikut suamimu ? Boru Sumangge menjawab : Saya takut bersuamikan Raja Tunggal karena dia dapat mematikan orang apalagi saya juga dapat dimatikan nanti dan lagi pula namanya : Raja tetapi miskin tidak punya apa-apa baik tanah, maupun perladangan. Oleh karena itu saya tidak mau lagi kembali. Mendengar kata-kata putrinya itu, Datu Parulas dan istrinya jadi susah memikirkan tingkah laku putrinya yang tidak mau lagi. Mereka memberi nasehat kepada putrinya agar kembali dan tidak baik meninggalkan suami dengan alasan tersebut.

Dia adalah orang baik dan bukan orang jahat, juga dia berjasa terhadap kita selama ini. Karena dia maka musuh kita kalah. Alangkah ruginya kita dan nama keluarga kita akan rusak bilamana engkau tidak kembali lagi. Akhirnya ibunya menanyakan dengan hati lembut apa sebenarnya keginan putrinya agar mau kembali kesuaminya : Putrinya menjawab : Suami saya disebut Raja akan tetapi tidak mempunyai apa-apa dimana saya malu oleh karena itu berikanlah kepada .kami pakaian yang tidak bisa habis (Pakaian naso olo buruk = Tano). Mendengar ucapan putrinya itu kedua orang tuanya menyatakan : Kalau hanya tanah yang engkau inginkan akan kami sanggupi nanti seberapa yang engkau butuhkan asalkan engkau mau kembali ke Suamimu. Mendengar ucapan Ayah dan Ibunya, putrinya menjawab : Baiklah akan tetapi saya harap Ayah dan lbu dapat mengantarkan saya ke Huta-Batu karena saya takut dimarahi nanti.

4. Merekapun sama-sama berangkat ke Huta—Batu. Begitu mereka tiba di Huta-Batu penyambutan Raja Tunggal terhadap mertuanya dan istrinya kurang simpatik. Hal tersebut disadari oleh Datu Parulas karena sudah lama menantunya ditinggalkan istrinya. Akan tetapi keadaan ini adalah merupakan sandiwara bagi Raja Tunggal dan Boru Sumangge agar rencana mereka berdua terpenuhi. Walaupun kelihatan Raja Tunggal kurang simpatik terhadap kedatangan mertunya dan istrinya namun mertuanya tetap dengan hati lembut menyampaikan kata-kata nasihat agar dengan kedatangan mereka bersama istrinya diterima dengan lapang dada.

Mengenai permintaan istrimu yaitu tanah, sekarang kita tentukan seberapa kalian butuhkan dan kapan penyerahan serta penetapan batas-batasnya. Mendengar ucapan mertuanya itu, Raja Tunggal dalam hatinya sudah bergembira sekali karena maksudnya terpenuhi. Lain ditetapkanlah hari dan tempat serta caranya namun Raja Tunggal berkata kepada mertuanya :

"Ala hamu do mata ni ari dohot mata mual di hami".

Hamuma didolok, Hami ma ditoruan ima pangidoan nami.

Dan mengenai luas tanah yang akan diberikan kepada kami :

- "Balga adat nahupasahat hami, Bidang ma tano lehonon muna dihami"

- "Gelleng adat nahupasahat hami Otik ma tano lehonon muna dihami"

- "Balga Horbo Silehonon nami Bidang do bobak na".

- "Gelleng Horbo Silehonon nami Otik do bobak na" Jadi nasa bobak ni Horbo Silehonon nami ima di hami tano i.

Mendengar ucapan menantunya, Datu Parulas menyetujuinya dan sekaligus berjanji mengadakan pesta serta dimana tempat pesta itu diadakan. Untuk itu diambil kesepakatan bersama yakni : Kapan senapan mereka berbunyi pada saat itulah mereka berangkat dan kemudian berjalan dan dimana mereka bertemu disitulah tempat pesta sekaligus batas tanah. Setelah selesai permufakatan mereka maka mertuanyapun berangkat ke Pusuk dan Boru Sumangge tinggal di Huta—Batu bersama suaminya dalam keadaan bergembira karena rencana mereka telah berhasil, hanya menunggu saat penyerahan saja.

5. Karena waktu pesta yang mereka tentukan telah tiba maka pagi- pagi benar Raja Tunggal dan istrinya dengan cepat berjalan menuju ke Pusuk tanpa membunyikan lebih dahulu senapan. Setelah separoh jalan senapannya dibunyikan. Dan mendengar bunyi senapan Raja Tunggal, mertuanyapun membunyikan senapan dan berangkat. Akan tetapi mertunya heran kenapa begitu cepat mereka bertemu padahal kalau diperhitungkan dari bunyi senapan mereka belum waktunya bertemu. Semua ini merupakan inisiatip Boru Sumangge namun demikian Datu Parulas tidak dapat berbuat apa-apa asalkan putrinya tidak meninggalkan suaminya.. Maka jadilah mereka bertemu di suatu tempat bernama : Sihulang-hulang (Asal kata = Andor hulang-hulang ni horbo) dan ditetempat inilah diadakan pesta dengan memotong kerbau sedang kulit kerbau yang di potong itu dibawa Boru Sumangge ke Huta-Batu untuk diiris halus-halus yang akan dipergunakannya menentukan batas-batas tanah yang akan diserahkan Datu Parulas. Tempat inilah satu-satunya batas tanah arah ke Pusuk dan disini ditanam pohon Raba-raba sebagai pertanda dan sekarang pohon tersebut telah mati disambar petir. Selesai pesta bersama yang dilaksanakan di Sihulang-hulang (Raba-raba) merekapun pulanglah ketempat masing-masing. Datu Parulas beserta keluarga kembali ke Pusuk dan Raja Tunggal beserta istrinya kembali ke Huta-Batu. Akan tetapi penentuan batas-batas tanah masih ditetapkan kemudian.

6. Setelah selesai diiris Boru Sumangge dan Raja Tunggal kulit kerbau tersebut lalu dihubungilah mertuanya ke Pusuk untuk memberitahukan hari penentuan batas-batas tanah yang akan diserahkan Datu Parulas kepada menantunya. Tiba hari penentuan batas-batas tanah tersebut Raja Tunggal dan istrinya berangkat dari Huta—Batu menuju tempat pesta yaitu Sihulang-hulang demikian juga Datu Parulas. Merekapun sama-sama menetapkan batas-batas tanah yang akan diserahkan kepada Menantunya/Putrinya. Dengan kepintaran Boru Sumangge mempergunakan irisan kulit kerbau tersebut yang dimulai dari tempat pesta (Sihulang-hulang) dan disini ditanam pohon Raba-raba sebagai batas ketanah Datu Parulas. Irisan kulit kerbau itu dibentangkan dari Sihulang-hulang memanjang ke Dolok Somalia terus ke Aek Simonggo — Onggol terus ke Dolok Napahorsik berbatas ketanah Marbun Sehun.

Dimana irisan kulit kerbau yang dibentangkan dengan begitu panjang yang menjangkau tempat-tempat tersebut sehingga diperoleh tanah yang begitu luas jika dibandingkan dengan luas tanah yang tinggal sebagai milik Datu Parulas.

Dari kejadian ini timbul perkataan dililiti yakni kulit kerbau yang diiris meliliti tempat-tempat sebagai batas tanah yang diserahkan, kemudian dari perkataan itu menjadi : PARLILITAN yang merupakan nama daerah yang dililiti kulit kerbau tadi.

Selesai penyerahan tanah tersebut Datu Parulas pulang ke Pusuk dengan agak malas karena dilihat dari cara putrinya mengukur tanah tersebut, sehingga lebih luas tanah tersebut milik menantunya/putrinya daripada mereka sendiri. Akan tetapi karena sudah permufakatan dan lagi pula takut nanti putrinya meninggalkan suaminya, Datu Parulas tidak dapat berbuat apa-apa terpaksa diterima dengan hati senang. Sedang Raja Tunggal dan Boru Sumangge br. Nainggolan pulang ke Huta—Batu dengan hati gembira karena sudah mempunyai tanah sebagai rnilik mereka dari pemberian mertuanya (Tano Pauseang).

7. Di Huta—Batu Raja Tunggal menanam pohon kayu yang disebut namanya Piangi. Keganjilan pohon tersebut setelah besar ialah : Pohon tersebut lurus berdiri dimana ada semacam tongkat dari cabang sampai ketanah, sedang daunnya selalu mengarah kesatu arah saja yaitu kearah kampung mertuanya di Pusuk. Dari situ jelas bahwa pohon tersebut merupakan pertanda : Raja Tunggal selalu hormat kepada mertuanya. Akan tetapi kira-kira tahun 1972, kayu tersebut dibakar oleh Ajar Sihotang dari Siringo-rirngo dimana dia mau memanfaatkan tanah disekitar kayu tersebut menjadi ladangnya. Namun belum sempat dipergunakannya, Ajar Sihotang meninggal setelah melalui sakit dipunggungnya. (Busuk jala gulohan holi-holi ni tanggurung na). Memang daerah tersebut tidak boleh diganggu apalagi dibakar sedang Ajar Sihotang tidak memperdulikannya.

8. Di Huta-Batu, Raja Tunggal mempunyai 4 (empat) orang anak laki-laki bernama : Raja Bukit, Tuan Pandak, Tupik Napunu dan Rancaran.

BAB VII

RAJA TUNGGAL MENDATANGKAN KELUARGA

SIGODANG ULU - SIHOTANG DARI TANO SIHOTANG

1. Setelah Raja Tunggal berkeluarga dan resmi memiliki tempat tinggal di Huta—Batu serta memiliki tanah perladangan yang luas pemberian mertuanya sebagai tanah pauseang, timbul pikirannya seperti seorang patriot yakni memikirkan keluarganya yang ada di Tano Sihotang tempat tumpah kelahirannya. Dia tidak mengingat peristiwa masa lampau sebelum berangkat meninggalkan asalnya. Akan tetapi memikirkan masa depan yang baru dan lebih baik. Oleh karena itu dia berkonsultasi dengan isterinya sebelum berangkat ke Tano Sihotang untuk mengajak keluarganya yang ada di Tano Sihotang serta mau mengunjungi mereka karena sudah beberapa tahun tidak pernah lagi berjumpa sejak ditinggalkannya. Hal tersebut disetujui oleh isterinya Boru Sumangge br. Nainggolan.

2. Dengan persetujuan bersama maka Raja Tunggal dan isterinya berangkat ke Tano Sihotang mengunjungi keluarga abangnya sendiri dan memberitahukan bahwa dia sudah berkeluarga serta memiliki tanah perladangan yang luas. Mereka ada beberapa hari di Tano Sihotang sambil melepas rindu, maklum sudah bertahun- tahun mereka berpisah baru bertemu kembali, disamping memperkenalkan isterinya kepada abangnya di Tano Sihotang juga mau membawa keluarga abangnya ke Parlilitan. Mula-mula Raja Tunggal membawa keluarga Marsoit kemudian Pardabuan, Sorganimusu dan Torban Dolok. Sedang keluarga Randos tidak mau diajak.

Sebelum penyerahan tanah kepada keluarga abangnya yang dari Tano Sihotang lebih dahulu diadakan musyawarah di mana bahwa tanah yang akan diserahkan tersebut hanya dapat ditempati, diusahai dan tidak boleh diperjual belikan atau dialihkan menjadi milik orang lain, serta bila ada pesta/horja diatas tanah tersebut harus menyerahkan adat tertentu kepada keturunan Datu Parulas, dan hal ini telah disepakati mereka.

3. Adapun tempat-tempat keluarga abangnya dari Tano Sihotang adalah sebagai berikut : si Marsoit ditetapkan disebelah Barat Dolok Saga yang disebut Lumban Simarsoit. Sedang Pardabuan, Sorganimusu dan Torbandolok sebelah Timur Huta-Batu sampai ke Raba-Raba. (Tempat Pesta penyeralian tanah yang disebut batasnya ke Pusuk atau Sihulang-hulang).

Tempat ini tanahnya agak datar, ada mata air dan baik untuk persawahan. Dan kalau kita lihat keadaan yang sebenarnya dimana tempat tinggal keturunan Raja Tunggal berada di tempat yang tidak rata dan tidak bisa persawahan karena tanahnya berbukit-bukit (rura do tano na tu pinompar ni si Raja Tunggal). Jadi sangat berbeda dengan keluarga abangnya dari Tano Sihotang.

Hal ini dapat kita lihat sendiri dimana keturunan Raja Tunggal mempunyai tempat sebagai berikut :

a. Raja Bukit sebagai anak pertama, keturunannya di Parlilitan sekarang yang tanahnya tidak rata mulai dari Barati sampai ke Pasar Parlilitan. Dimana tanah datar hampir tidak ada kalaupun ada sawah kelihatannya tidak luas karena tanahnnya berbukit-bukit (rura).

b. Tuan Pandak pergi merantau ke Tanah Karo/Aceh. Tentu kepergiannya pergiannya karena lokasi tanah perladangan untuk dia juga tidak seperti tanah perladangan keluarga abangnya dari Tano Sihotang.

c. Si Tupik Napunu : Tidak berketurunan.

d. Rancaran sebagai anak yang terkecil (Siampudan) keturunannya dekat Huta—Batu yang disebut Amborgang juga tanahnya tidak rata.

4. Dari sini jelas bahwa sifat dan tingkah laku Raja Tunggal terhadap abangnya dari Tano Sihotang tetap mengikuti adat istiadat dan tata krama antara adik dengan abang yang selalu menghormati yang lebih tua, tidak mementingkan sendiri dan tidak mau menyakiti serta tidak mau melawan abangnya, maupun membuat keru- suhan ditengah keluarga serta selalu mengalah.

BAB VIII

PEMUGARAN MAKAM DAN SOPO

RAJA TUNGGAL HASUGIAN Dl HUTA-BATU

1. Huta-Batu adalah nama tempat tinggal Raja Tunggal dan istrinya Boru Sumangge br. Nainggolan beserta adiknya Orang Kaya Tua. Daerah ini sangat baik dan indah yang dilengkapi mata air untuk minum dan permandian. Dari tempat ini kelihatan daerah Pusuk kampung mertuanya yaitu Datu Parulas Nainggolan dan kampung Sionomhudon yakni kampung mertua Datu Parulas. Tempat dibangun ± 400 tahun yang lalu oleh Raja Tunggal dan Istri setelah tempat itu sah secara adat diserahkan mertuanya.

2. Di Huta-Batu dikuburkan kembali abu ibunya br. Simbolon yang sejak Kerangkatkan mereka dari Tano Sihotang ikut dan meninggal di Dolok Martippus kemudian mayatnya dibakar dan abunya bungkus serta dibawa kemana mereka pergi hingga akilirna di kuburkan di Huta—Batu setelah tempat itu resmi menjadi tempat tinggal menetap.

3. Adiknya Orang Kaya Tua tidak lagi tinggal bersama mereka Huta-Batu disebabkan Raja Tunggal tidak menyetujui adiknya kawin dengan Tagan Sombereng br. Tinambunan. Dimana calon istri adiknya adalah cucu mertua Datu Parulas atau maen Datu Parulas Nainggolan sendiri yang menurut adat tidak baik namun adiknya tetap melaksanakannya dengan kawin lari. Sehingga mereka bertengkar yang akhirnya Orang Kaya Tua disuruh pindah ke Huta Tinggi yaitu suatu tempat yang agak jauh dari Huta- Batu arah ke Napohorsik. Kemudian tempat tinggal keturunan Orang Kaya Tua sering disebut : Santik mulduk-ulduk Gaman Nambadia, Onggol Napahorsik, Namogana Situmeang.

4. Setelah Raja Tunggal dan istrinya Boru Sumangge br. Nainggolan meninggal lalu dikubur oleh keluarganya berdekatan dengan kuburan ibunya br. Simbolon. Yang jaraknya ± 110 m arah Nariti atau sekitar ± 120 m dan rumahnya. Kuburan/Makam Raja Tunggal, Boru Sumangge br. Nainggolan dan Boru Simbolon dibuat dalam satu lokasi yang merupakan suatu unggukan tanah berbatu yang tinggi serta mempunyai pintu tiga dimana pintu tersebut dan batu yang berlapis besi. Sedang disekitar rumah mereka terdapat batu dan batu tersebut masih kelihatan bekas tempaan besi untuk alat-alat perang dan lainnya dan disinilah dibangun Sopo.

5. Sekitar tahun 1972 seorang bemama Ajar Sihotang membakar lokasi Huta—Batu untuk dibuat perladangannya sehingga sebuah pohon Piangi ikut musnah terbakar, sedang pohon ini adalah merupakan pertanda hormat kepada Hula-hula di Pusuk yang ganjil dan jarang dijumpai seperti bentuk pohon tersebut. Akan tetapi tidak beberapa lama Ajar Sihotang jatuh sakit dan meninggal.

Memang ada ketentuan bahwa lokasi tersebut tidak boleh diganggu apalagi dibakar.

6. Pada waktu pengaspalan jalan raya Sampean—Parlilitan ada tangan- tangan jahil yang merusak daerah Huta-Batu untuk mengambil batu dimana batu berlapis besi yang di makam Raja Tunggal ikut dipecahkan padahal batu tersebut adalah merupakan pintu penutup makam tersebut dan inilah yang dipugar kembali.

7. Mengingat akan kejadian tersebut dan lokasi Huta-Batu sangat berharga dimana dan lokasi inilah tersebar keturunan Raja Tunggal keseluruh penjuru dunia yang membawa marga Hasugjan dan mempunyai 16 generasi sampai sekarang maka tanggal 12 Mei 1980 diadakanlah Perletakan Batu Pertama Pemugaran Makam Raja Tunggal dan Boru Sumangge br. Namggolan serta br. Simbolon

Kemudian tanggal 27-28 Desember 1986 diadakan kembali rapat serta peninjauan bersama ke Huta—Batu dan diambil kesimpulan untuk memugar Makam dan membangun Sopo yang pelaksanaanya dimulai awal tahun 1987 dan selesai pertengahan Juni 1988.

8. Luas daerah Huta—Batu diperkirakan ± 10 Ha dimana seperti ini jarang dijumpai. Karena selain tempat sejarah asal marga Hasugian dan tempat Makam dan Sopo Raja Tunggal juga tempat ini dihari depan berkembang serta menjadi objek Wisata yang berkembang bila jalan raya antara Dolok Sanggul – Sampean-Parlilitan mantap.

Walaupun pada saat sekarang ini keturunan Raja Tunggal hanya memugar Makam dan membangun Sopo yang bentuknya sangat sederhana namun perkembangannya masih terbuka untuk kemjuan dihari yang akan datang. Jadi daerah Huta—Batu bukan hanya sebagai tempat Makam dan Sopo namun pemanfaatannya sangat luas serta membawa keuntungan yang sangat besar dihari akan datang.

BAB IX

PENUTUP

Dan uraian yang ada didalarn buku Sejarah "Raja Tunggal-Hasugian" yang diterbitkan ini masih belum memberikan gambaran yang memuaskan bagi sebagian pembaca dan keturunan Sigodang Ulu—Sihotang maupun keturunan Raja Tunggal Hasugian sendiri. Namun penyusun melihat keadaan yang terjadi sebenarnya yang dapat membuktikan betapa gigihnya perjuangan Raja Tunggal bersama adiknya Orang Kaya Tua demikian juga peranan Boru Sumangge br.Nainggolan.

Raja Tunggal bukan sebagai seorang pengemis ataupun pejuang gadungan akan tetapi jelas sebagai seorang patriot yang patut di teladani oleh siapa saja yang mengetahui sejarah kehidupannya maupun hasil perjuangannya. Memang kalau dilihat sepintas sejarahnya ada hal-hal yang tidak perlu diperhatikan karena nilainya sangat kecil sekali dan secara matematik harnpir nol bila dibandingkan dengan hasil perjuangannya serta tingkah lakunya maupun semangatnya. Penyusun mencoba mengungkapkan dalam bab penutup ini materi yang perlu dikembangkan dan diteladani antara lain :

1. Hasil perjuangannya sejak berangkat dan sampai di Huta-Batu.

a. Mereka berjuang dihutan belantara bertahun-tahun dengan membawa ibunya tanpa merugikan maupun mengganggu keluarga atau orang lain.

b. Mereka berjuang sebagai seorang pejuang yang benar bukan pengecut yaitu membantu orang lain yang dalam keadaan terancam bahaya tanpa meminta pembayaran lebih dahulu. Mereka berani berkorban untuk membantu orang dalam kesulitan.

c. Keberhasilan perjuangannya tidak dibanggakan untuk kepentingan sendiri. Akan tetapi keberhasilannya diberikan kepada yang membutuhkannya walaupun yang membutuhkannya itu telah pernah membencinya. Dan yang diberikannya itu adalah yang paling baik dari yang tinggal untuk dirinya sendiri atau keturunannya.

2. Tingkah laku serta semangat.

a. Selalu mengalah dan tidak mau mengadakan keributan walapun dia mampu melawan.

b. Tidak mau menonjolkan kekuatannya walaupun dia sanggup berhadapan dengan lawannya.

c. Selalu menunjukkan kemampuannya dengan perbuatan bukan dengan perkataan.

d. Selalu menghormati yang lebih tinggi maupun lebih rendah dari dia baik dari umur maupun dari adat istiadat.

e. Patuh kepada tata cara atau tatakrama yang sah.

f. Memiliki semangat yang tinggi.

3. Hal-hal yang perlu dikembangkan adalah lokasi Huta—Batu tahap demi tahap. Karena lokasi tersebut tidak tertutup hanya untuk tempat Makam ibarat kuburan orang yang tidak dapat dikembangkan karena hanya sebagai tempat kuburan saja. Namun lokasi Huta-Batu lain dari pada yang lain karena dapat dikembangkan sebagai Objek Pariwisata ataupun Objek lain untuk generasi mendatang sebagai sumber pendapatan.

Demikianlah buku sejarah Raja Tunggal – Hasugian yang disusun secara singkat dan harapan agar makin meningkatkan semangat berjuang demi kejayaan. Keluarga Besar Hasugian maupun Bangsa dan Negara. Kiranya dari buku kecil ini dapat diambil nilai yang paling besar untuk meningkatkan cinta kasih sesama keluarga Hasugian maupun sesama keluarga lain.


Thanks Bwt:

Maringan Hasugian (http://maringanhasugian.multiply.com/)